Berkisah (tulisan lama)

Mari kuceritakan tentang kisah seorang anak manusia



Wanita ini terlahir ke dunia 27 tahun silam. Menjadi anak perempuan pertama dan satu-satunya diantara empat bersaudara yang kesemuanya laki-laki. 

Bapak dan ibunya berasal dari keluarga sederhana jauh di desa. Bapak dan ibunya sudah terbiasa merantau sejak mereka muda dan memutuskan untuk tinggal di Jakarta semenjak awal membina rumah tangga. Bapak memutuskan untuk mengawali kisah keluarga kecilnya dari sebuah rumah kontrakan di pinggiran timur Jakarta. Ibunya memutuskan untuk penuh waktu menjadi ibu rumah tangga dan berkomitmen mengurus suami dan anak-anaknya.


Bapak (lulusan SMA) yang sejak muda hingga menutup usia hanya bekerja sebagai staff bagian transportasi di sebuah hotel bintang lima di jantung ibu kota Jakarta. Dia ingat betul betapa jarang bersama Bapak sewaktu kecil karena sistem shift dalam pekerjaan Bapak yang banyak mengharuskan Bapak bekerja di malam hari mengantar dan menjemput tamu hotel yang datang dan pergi. Bahkan beberapa lebaran Bapak hanya sempat sholat Ied sebelum kembali lagi bekerja.


Hari-harinya banyak dihabiskan bersama ibu dan adik-adiknya. Ibu cekatan sekali. Semua tugas rumah diselesaikannya tepat waktu. PR dan jadwal pelajaran anak-anak juga diperhatikannya. Dengan suaminya pun tak kalah cekatannya. Terkadang ibu mencoba resep masakan baru atau menjajal pola baju lainnya di atas mesin jahit. Seingatnya, mesin jahit itu sudah dijual kepada kerabat jauh Ibu. Walau ibu terkadang memarahi kami karena apa yang dilakukannya adalah salah. Protes soal masakan yang tak sesuai selera, terlalu banyak main di luar, malas mengerjakan PR, malas mengaji dan belajar, dan hal-hal kecil lainnya yang bisa membuatnya kena omel. Kalo sudah kena omel, biasanya dia hanya diam dan mendiamkan seisi rumah.


Soal pendidikannya, awalnya semua berjalan lancar, TK, SD negeri, SMP negeri, SMA bahkan perguruan tinggi negeri yang menjadi favoritnya. Banyak kisah berjejalan yang mulai mewarnai kehidupannya beranjak remaja dan dewasa. SMP negeri favoritnya di Jakarta harus ditinggalkan dan hijrah ke salah satu SMP negeri di kampung kelahiran ibu nya. Waktu itu, sesudah menjalani operasi usus buntu, Bapak dan Ibu kelimpungan mencari biaya untuk pengobatannya. Harapan hidup di desa waktu itu adalah hidup sehat dan biaya lebih murah. Tapi nyatanya semua tak berjalan sesuai rencana. Mereka pun kembali ke kota besar, demi Bapak yang setahun rela hidup terpisah dari anak-anak dan istrinya. 


Itu baru cerita awal. Dia kembali diuji ketika penyakit kanker usus tiba-tiba menjadi benalu dalam tubuh bapak, bahkan mengantar Bapak sampai kematian menjelang. Persis akhir Mei 2009, wanita itu harus merelakan bapaknya, yang seharusnya nanti menjadi wali nikahnya. 


Bertahan dengan keadaan yang ada, menahan sakit dan rindu ketika adik-adik mulai satu persatu dititipkan pada keluarga besar. Jauh sekali rasanya jarak mereka waktu itu. Makin jauh, makin jauh, dan jauh ketika ibunya juga memutuskan untuk mencari kemurahan rezeki di Saudi Arabia. Studinya diselesaikannya sendiri. Sendiri sambil perlahan menata kehidupan kearah yang lebih baik. Ia tak bisa lantas dikatakan tegar, karena masih suka menangis. Ia tak bisa lantas dikatakan lapang, karena masih suka diam. Ia hanya sanggup menjalaninya perlahan, sampai detik ini, berada di titik ini.

Dia sangat senang ketika berkecimpung dalam aktivitasnya sebagai mahasiswa di kampus. Itu kemudian menjadi salah satu sumber energinya. Ia hanya harus berbuat banyak, sebagai bekal kehidupannya pasca kampus nanti. Sambil terus menyusun target-target hidupnya, dia tak pernah lupa  bahwa tekadnya adalah membahagiakan ibunya, sampai nanti, sampai kapanpun.

Maka kemudian dia selalu menitipkan doa-doa terbaiknya kepada Sang Pemilik hidupnya. Semoga Allah selalu melindunginya. Impiannya kini belumlah usai. Ya, harusnya memang tak pernah usai. 

Kini, dia sudah banyak mengerti, sudah banyak mensyukuri, mengapa dulu Allah karuniakan kehidupannya sedemikian. Tak ada yang sulit, takarannya masing-masing. Yang penting jangan lupa bersyukur.

Komentar

Postingan Populer