Surga itu bernama: Ibu :)
Sore ini aku memutuskan untuk menunggu hingga adzan maghrib berkumandang barulah pulang ke rumah. Lekat sekali bayangan ibu dan ketiga adikku sore itu. Kalau tak diselingi candaan rekan kerjaku, rasanya mungkin air mata akan meleleh tepat di pipiku. Aku masih ingat betul betapa perjuangan ibu untuk kami luar biasa, seluruh gaji, bonus, THR, bahkan waktu yang kupunya pun rasanya tak dapat menandingi keberaniannya mencari nafkah hingga ke negeri seberang, bernama Saudi Arabia. Minim sekali komunikasi kami waktu itu. Aku ingat pedihnya menahan rindu bukan main. Rindu yang waktu itu hanya bisa kutitipkan lewat doa. Rindu yang waktu itu hanya bisa kuwujudkan dalam bakti sebaik-baiknya bakti walau jauh dari sempurna. Rindu yang waktu itu kujanjikan sendiri kalau suatu saat nanti aku akan membayar semua rindu-rindu itu. Ibu sangat ingin melihat kami semua anak-anaknya jadi orang sukses, sukses itu relatif, relatifnya menurut ibu, berkecukupan, jadi anak yang penuh bakti, penyayang saudara, keluarga, dan sesama, toleran terhadap tetangga, serta selalu berusaha menyambung tali silaturahmi dengan semua yang pernah dijalin dan dibangun oleh almarhum bapak. Aku sampai tahu hal sedetil ini, saking penasarannya, aku sarikan semua dari hasil percakapanku selama ini dengan beliau. Ah, nobody perfect in this world, my mom too. Tapi ibu indah dimata kami semua, anak-anaknya. Ibu, surga kami :)

Komentar
Posting Komentar