INDONESIAKU SUDAH 69 TAHUN RUPANYA
69 tahun sudah gaung KEMERDEKAAN INDONESIA diproklamirkan
69 tahun sudah Indonesia menata hidupnya...
Malam itu adalah malam menyambut kemerdekaan di tahun 2014.
Ibu-ibu di RT kami sibuk membuat perayaan kemerdekaan dengan syukuran makan malam bersama, pemilihan RT dan pengurus RT yang baru, serta merancang lomba kecil-kecilan untuk anak-anak kecil yang ada di RT kami.
Malam itu, bahkan sebelum malam itu, mendengar lagu Indonesia Raya dan 17 Agustus selalu berhasil membuat bulu kuduk merinding, bahkan ada perasaan haru. Teringat, apa yang sudah saya sisipkan untuk negeri tempat segalanya bagi kami ini?
Aku ingat betapa almarhum bapakku senang sekali setiap menyambut 17 Agustus. Upacara protokoler dari Istana Negara yang disiarkan secara langsung tak pernah absen disaksikannya dari layar televisi kami yang waktu itu masih gagah menghias rumah mungil kami. Bapak hanyalah karyawan swasta, sehingga tak pernah baginya mengikuti upacara 17 Agustus-an kembali.
Aku, waktu itu belum tau caranya menceritakan apa yang harus aku bagi untuk nusantara ini kepada Bapak dan Ibu. Saat itu aku hanya tahu belajar dengan giat, demi membahagiakan mereka. Akhirnya, sampai saat ini aku hanya bisa meneruskan ceritaku pada Ibu, sepeninggal Bapak.
Aku bukan orang yang jenius yang mampu pecahkan berbagai persoalan seputar sains dan matematika hingga mendunia. Karya ilmiahku pun baru sampai tahap proposal dan baru satu yang berhasil diabadikan, namanya skripsi. Karanganku baru sebatas koleksi pribadi yang perlu banyak revisi. Beasiswaku tembusnya baru tingkat dalam negeri. Apalagi soal teknologi dan robotik, hanya sekedar pembaruan di gadget.
Duh, lantas apaaa yaa yang bisa kubagikan untuk negeri cantik bernama Indonesia ini?
Tetiba ingat dulu kami yang ketika itu harus tetap bersekolah dalam keadaan minim biaya. Dan teringat salah satu materi dalam mikroekonomi tentang invisible hands. Berkaca kembali, rupanya banyak sudah kontribusi sang Pencipta beserta makhluk-makhluknya yang mengantarkan saya sampai ada di titik ini. Pendidikan bagiku gerbang melihat dunia yang jauh lebih anggun dan elegan, dan aku salah satu hambanya yang beruntung yang dapat merasakan, menerapkan, dan membagikannya. Bahkan sampai tingkat perguruan tinggi. Pendidikan juga yang membuat aku semakin luas menjalani berbagai himpitan yang datang. Semakin dalam menyelami dan memaknai angin yang bertiup kian kencang dalam kehidupan kami. Bapak, Ibu, tak hentinya mereka berkeras demi keberhasilan kami. Rasa lelah dan malu sudah tak dihiraukannya lagi. Makna kemerdekaan bagi Bapak dan Ibu kini bisa jadi adalah melihat kesuksesan kami, anak-anaknya. Sukses. Ya, sukses yang tak hanya sekedar diukur materi tentunya.
Buah pemikiranku bertahun-tahun memaknai perjalanan kami. Genap 23 tahun, dan aku (Alhamdulillah) sedang diamanahkan berbagai amanah yang terus membuat rasa cintaku terhadap Bangsa ini makin mengakar. Aku harus bisa mengabdikan diriku. Mengabdi itu bukan soal seberapa tinggi yang bisa dihasilkan, tapi seberapa ikhlaskah kita melakukannya. Aku sudah pilih jalanku untuk berbagi kepada bangsa ini. Awalnya semua terasa sulit, tapi kini niatku kian mantap, doaku kian dahsyat. Semoga Allah dan semesta mendukung. Pengajar. Ya, pengajar. Sudah siapkah anda berbuat terbaik untuk Indonesia? :)

Komentar
Posting Komentar