Saya dan Tim yang Menghebatkan Saya

Ketika saya berada dalam sebuah tim (fasilitator penggerak pendidikan daerah) beranggotakan sepuluh orang dengan saya sendiri, saya mendapatkan amanah untuk menjadi penanggung jawab sebuah program mengajar di sebuah daerah, yang desain awalnya adalah akan melibatkan relawan-relawan dari daerah tersebut sebagai panitia sekaligus tenaga pengajar.

Program mengajar ini sudah pernah diadakan di tahun sebelumnya. Tongkat estafetnya diberikan kepada saya dan tim. Hasil evaluasi tahun sebelumnya juga sudah rampung kami baca dan diskusikan. Poin terberatnya pada waktu itu adalah, banyak pihak, terutama Dinas Pendidikan setempat (yang mana seharusnya jadi pendukung garis depan) menilai kegiatan yang telah dilakukan di tahun sebelumnya belum dapat dikatakan berhasil dan berdampak nyata, karena jumlah relawan yang (benar-benar) bekerja sangat sedikit, waktu program yang sangat singkat, dan persebaran relawan yang tidak merata. Belum lagi adanya indikasi oknum relawan mencatut nama sana-sini demi mendapatkan dana segar hingga ke bupati. Tapi kabar baiknya dari itu semua adalah, adanya relawan yang benar-benar serius mengerjakan ini semua, sehingga di beberapa tempat, meninggalkan kesan yang mendalam bagi orang-orang sekitar.

Dalam diskusi awal kami, langkah pertama kami adalah menentukan konsep program mengajar daerah di tahun kami bertugas. Desain program mengajar daerah ini sangatlah menentukan langkah selanjutnya, tentunya dengan pertimbangan dari apa yang telah dilaksanakan sebelumnya. Karena kami ingin memberdayakan relawan daerah setempat (agar adanya keberlanjutan), maka saat mendiskusikan desain program mengajar daerah, kami mendudukkan juga relawan-relawan yang pernah (dan masih mau) terlibat dalam kegiatan ini lagi. Hasilnya, diskusi berjalan lancar. Keoptimisan kami muncul, tapi saat itu kami lupa, lupa mempertimbangkan kemungkinan terburuknya jika relawan-relawan yang kami ajak bicara hari itu turut mengerjakan program mengajar daerah tersebut dengan kinerja hampir seperti tahun lalu (yang mana mendapatkan penilaian kurang maksimal dari banyak pihak).

Singkat cerita, bulan-bulan berikutnya, keoptimisan kami mulai memudar. Bagaimana tidak, relawan yang kami harapkan, mulai kendor kontribusinya hanya karena alasan pendanaan. Padahal saat itu, tahap pendekatan kami dengan Dinas Pendidikan setempat sudah membuahkan hasil. Dinas Pendidikan setempat bersedia menyediakan sejumlah anggaran dengan metode ‘reimbursement’, sehingga mau tidak mau, program harus dijalankan terlebih dahulu (tentunya dengan pengawalan Dinas Pendidikan setempat), baru kemudian setelah evaluasi seluruhnya, dana baru akan dicairkan. Namun kenyataannya, relawan tetap saja kendor, malah makin mengada-ada, dan pada akhirnya mereka menyatakan ketidaksanggupan karena alasan kesibukan kuliah, bekerja, dan lain-lain. Tambahannya, ada relawan yang kami kenal betul kinerjanya yang apik, ikut pamit mengundurkan diri dengan alasan sedang fokus mengembangkan taman baca di desanya sendiri (untuk bagian ini, kami betul-betul bahagia telah tumbuh bibit-bibit kerelawanan di daerah tersebut, walau dengan platform yang berbeda).

Kami bukan saatnya lagi bersedih. Tapi saya akui, saya sempat stuck beberapa waktu itu. Pikiran saya buntu karena terasa semua kembali dari nol. Tak ada lagi relawan setempat yang mau bergabung, sedangkan kami semua sepakat hal yang ingin kami wujudkan adalah untuk pengembangan sumber daya manusia di daerah tersebut. Diskusi alot pun beberapa kali terjadi di tengah-tengah kami. Ada yang tetap ingin melanjutkannya, tapi banyak yang tak mau melanjutkannya. Pertanggungjawabannya cukup berat jika program ini tak jadi dilanjutkan karena Dinas Pendidikan setempat sudah keburu mencanangkan sejumlah dana dalam rencana anggarannya, dan harus direalisasikan hingga akhir tahun, jika tidak maka realisasi anggaran untuk Dinas Pendidikan setempat tahun mendatang akan dipotong. Sungguh kami juga harus mempertimbangkan nama baik Dinas Pendidikan setempat, karena jika anggaran Dinas Pendidikan setempat di tahun mendatang berkurang, lantas siapa yang akan tanggung jawab?.

Masa menjabat kami sebagai fasilitator juga tak lama lagi akan berakhir. Kami harus segera eksekusi bagaimana kelanjutan dari program ini. Saya selaku penanggung jawab, tentunya dimana-mana akan ditanyai perihal kelanjutan program ini. Di saat-saat seperti inilah, saya rasakan saya punya tim yang jauh lebih hebat daya tahannya dari saya, mereka bisa berdiskusi secara alot, tapi kemudian mencetuskan untuk meneruskan program mengajar daerah ini dengan desain yang sama sekali berbeda dari tahun sebelumnya. Bukan lagi soal jadi-tidak jadi, sebuah gagasan brilian telah hadir dari mereka, yaitu menerjunkan guru-guru honorer (baik honorer sekolah maupun daerah) serta kontrak dalam pelatihan intensif dengan materi-materi yang tak hanya melulu soal pembelajaran kreatif, tapi juga kerelawanan diselipkan di dalamnya. Setelah mendapatkan pelatihan  intensif, tenaga pengajar honorer atau kontrak ini diharuskan mengajar di sekolah yang telah ditunjuk  selama satu bulan, sebagai wadah pengalaman dan penyegaran bagi guru, murid, maupun pihak sekolah.

Hasilnya? Gagasan tersebut disambut baik oleh Dinas Pendidikan setempat yang menyatakan bahwa selama ini di daerah tersebut minim sekali pelatihan untuk guru honorer maupun kontrak, padahal jumlah mereka cukup banyak, ribuan. Setelah gagasan berhasil diterima, pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang mengerjakannya (untuk yang satu ini kami tetap kekeuh melibatkan sumber daya manusia setempat agar keberlanjutan yang kami usung sejak awal tetap dapat terwujud). Oleh karena itu, setelah pendekatan soal pendanaan berhasil di tembus, maka pendekatan selanjutnya adalah soal pelibatan Dinas Pendidikan setempat sebagai bagian dari kepanitiaan, dengan harapan di tahun-tahun mendatang, mereka yang akan melanjutkan tongkat estafet inisiatif program mengajar daerah ini agar semakin banyak guru-guru honorer atau kontrak yang mendapatkan pelatihan atau bahkan tersertifikasi sebagai poin tambahan bagi mereka untuk jenjang pengangkatan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Setelah semua gayung berhasil disambut, maka porsi yang tersisa adalah pelaksanaan dan evaluasi. Alhamdulillah, semua pun berjalan dengan lancar. Bahkan, gaung pelaksanaannya diliput di beberapa media lokal. Kantor pusat kami yang berada berkilo-kilo jauhnya di Jakarta juga turut berbangga atas pencapaian ini. Dan kami pun memutuskan untuk ‘makan enak’ setelah semuanya berakhir.


Saya merasa bersyukur sekali mengenal dan melakukan kerja nyata bersama sembilan orang tersebut. Kami yang awalnya terserak dari entah belahan bumi mana, tapi ketika disatukan, kami bisa mewujudkan cita-cita bersama. Iya, salah satu tim kebanggaan saya yang kesemuanya lebih SMART dibanding saya.

Komentar

Postingan Populer