Antara Masjid Ungu, Gereja Putih, dan Jilbab Jingga

"Ruth, ternyata kita bisa ya melewati setahun kemarin"
Area Benteng Vredeburg sore itu hampir tak menyisakan ruang untuk kami, ramai sekali. Hingga duduklah kami di bangku pinggir jalan yang sudah disediakan, di antara manusia-manusia pelancong lainnya, pencari nafkah, atau pelaku cuci mata sore hari.
Terakhir saya bertemu dengannya, sekitar 3 bulan yang lalu. Tepatnya di acara pernikahan saya. Ia masih sama, ketawanya masih renyah. Namanya Ruth.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Saya dan Ruth tumbuh dalam keimanan yang berbeda. Kami juga tak pernah saling kenal sebelumnya, kalau bukan gerakan sosial tersebut yang mempertemukan dan mengirim kami bersama. Lantas kami menjalani setahun kami, yang kami isi dengan kerja, piknik, dan doa.
Adalah Ruth juga yang Allah sudah rencanakan ada dalam hidup saya guna saya belajar toleransi dalam arti sesungguhnya. Bagaimana tidak? Ruth menurut saya adalah seorang kristiani yang taat. Pergi kemanapun ia, yang dicarinya selalu rumah Tuhan. Bangun tidur dimanapun ia, yang disebutnya pertama kali adalah nama Tuhan. Nasihat yang keluar dari mulutnya pun juga penuh firman Tuhan. Yang selalu saya ingat darinya adalah `Tuhan itu baik di sepanjang waktu`, hingga ia kemudian dapat julukan;
Ruth `positif` Christyanti. Kelewat positif anaknya.


Tapi ia kristiani yang hobinya nongkrong di masjid. Hobi juga mencarikan dan mengantarkan saya, yang seorang muslim ini, ke masjid atau mushola untuk melaksanakan kewajiban jika sedang bepergian ke suatu tempat. Serta hobi mengingatkan saya dan teman-teman muslim lainnya sholat jika adzan sudah berkumandang. Masjid agung Kabupaten Paser bisa jadi salah satu saksinya. Jika setahun kemarin sering ditemui gadis yang parasnya lebih mirip orang Batak padahal Chinese, rambutnya pendek, atau kadang-kadang bondol, sering tidur-tiduran atau hanya sekedar main laptop di pelataran masjid, bisa dipastikan itu adalah Ruth.


Saya pun demikian. Gereja putih itu jadi salah satu saksinya karena sering kali saya mengantar Ruth untuk beribadah di hari minggu. Walau saya tidak menunggui Ruth di pelataran gereja, saya lebih sering menungguinya di Taman Kota yang letaknya tak jauh dari gereja. Jadi, kalau setahun kemarin hampir setiap hari minggu di depan gereja ada gadis (iya, saya masih gadis waktu itu) bertubuh gempal, berkerudung, dan setia dengan motor keluaran India mengantarkan Ruth ibadah, maka bisa dipastikan itu adalah saya.


Aneh memang kebiasaan kita berdua. Ditambah lagi kebiasaan mengajarkan anak-anak murid masing-masing untuk ikut bertoleransi, dengan cara; salah satunya adalah mengirimkan ucapan selamat tahun baru imlek dari murid-murid saya untuk Ibu Ruth, dan ucapan selamat hari raya idul fitri dari murid-murid Ibu Ruth kepada saya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Maka, soal ribut-ribut penistaan agama juga jadi obrolan kami sore itu (walau yang lebih banyak adalah soal rumah tangga *konsisten*). Dengan kesimpulan akhir dari pembicaraan adalah, kami bisa melewati setahun kemarin dengan taat hingga akhir, toleransi tetap hadir.

Terakhir, Ruth yang padahal sedang piknik ke Yogyakarta, masih sempat-sempatnya menghadiahi saya tiga buah jilbab sekaligus. Saya suka semuanya. Tapi dasar Ruth, masih ingat saja warna kesukaan saya, salah satunya jingga.
Ruth. Saya akan selalu ingat perkataannya.
`Tuhan itu baik di sepanjang waktu` 




Sumber gambar : www.google.com dan dokumentasi pribadi

Komentar

  1. "Tuhan itu Baik di sepanjang waktu"

    dan Ruth itu baik di sepanjang aliran sungai kandilo. #laaaaah
    hahahaha..

    aaah... love you both!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer