Sayang, Aku Hamil! - Bagian 1
Ini bukan kisah pernikahan dini, beneran bukan, suer
7 November 2016
Suami saya cemberut sore itu. Bete setengah mati. Pasalnya adalah, harusnya saya tepat waktu menemui dokter kandungan. Jadwal dokter kandungan dimulai pada pukul tiga sore dan nomor antrian saya adalah nomor lima. Suami sudah mewanti-wanti sejak pagi, agar saya pulang plesir lebih awal. Maklum saja, ada kawan berkunjung ke Jogja, sehingga saya pergi menemuinya. Namun yang terjadi, tepat jam tiga saya baru pulang plesiran, belum lagi menunggu bis dan menempuh perjalanan, alhasil jam setengah lima sore dengan muka memelas, saya menemui suami yang sudah menunggu sejak satu jam yang lalu di halte bis.
"Jadi mau ke dokter gak nih?" Tanyanya.
"Yaudah, ke rumah sakit aja dulu, kalik aja dokternya belum pulang" Jawab saya lirih.
"Lagian bukannya pulang dari tadi" Serunya ketus.
Saya diam, soalnya saya yang salah.
Begitu sampai di bagian pendaftaran, lega bukan main saya, karena dokter kandungan belum pulang, beliau masih mengerjakan beberapa pekerjaan, sehingga saya beruntung, beliau masih dapat ditemui dan saya pun dilayani dengan ramah.
---------------------------------------------------------------
30 Agustus 2016
Sekitar sebulan pasca pernikahan, saya yang masih ketar-ketir karena tidak kunjung haid, meminta suami untuk mampir sebentar ke apotik dengan tujuan membeli alat tes kehamilan. Alat tes kehamilan sudah dibeli dan saya pun mantap membaca petunjuk pemakaiannya di malam hari, kemudian berniat akan menggunakan esok paginya. Maka saya bergegas tidur malam itu, dengan tak lupa mengaktifkan alarm untuk esok pagi.
Keesokannya, saya bangun lebih awal dari biasanya. Seperti pesan penjaga apotiknya, saya tidak minum air putih dulu agar hasilnya lebih akurat. Lumayan dag-dig-dug ternyata menanti hasilnya. Tetapi ternyata hasil tes mengatakan negatif. Oke, nampaknya saya hanya telat haid, kemudian saya bergegas wudhu dan membangunkan suami untuk sholat subuh.
10 September 2016
Alhamdulillah, Allah kasih kelancaran dan kemudahan untuk suami dalam mengurus kelulusan dan wisudanya. Saya juga tentunya menemaninya hingga prosesi wisuda dan ritual lain-lainnya selesai. Pulangnya, kami juga bersiap untuk melakukan perjalanan ke Magelang, nengok si mbah.
Harusnya saya saat itu melakukan tes kehamilan sekali lagi sebelum bepergian agak jauh. Tapi saya cuek. Hingga akhirnya sepulang dari Magelang, saya mendapati flek selama lima hari berturut-turut. Asli, bikin panik.
14 September 2016
Iseng, setelah pencarian di mesin pintar berhari-hari, penasaran juga untuk tes kehamilan lagi. Kali ini, Alhamdulillah hasilnya, positif.
Suami yang kala itu baru melek langsung saya sodori hasil tes kehamilan. Dengan rambut kusut masai dan bau jigong, dia pun nyengir gak jelas sembari ngeloyor ke kamar mandi.
17 September 2016
Setelah melakukan tanya sana-tanya sini soal dokter kandungan atau bidan, akhirnya sore sepulang suami bekerja, kami memutuskan untuk memeriksakan kondisi terkini kandungan saya ke RSIA yang tidak jauh dari tempat kami. Hari sebelumnya kami sebetulnya sudah ke RSIA tersebut, tapi karena kesorean dan dokter kandungannya sudah pulang, kami pun kembali lagi tepat di jam praktik sang dokter karena hari itu sayalah pasien pertama beliau.
Pemeriksaan awal dimulai dari tensi darah dan pengukuran berat badan. Selanjutnya pencatatan seputar keluhan yang terjadi selama kehamilan. Baru setelah itu, saya dipersilakan masuk ke ruangan dokter, rebahan di atas kasur rumah sakit, dan mulailah proses USG.
Dari hasil perhitungan manual, yaitu hari pertama haid terakhir saya didapati usia kehamilan saya sudah tujuh minggu, akan tetapi hasil USG sore itu belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Bahkan, kantung rahim saya belum terlihat. Saya pun diharuskan kembali sebulan kemudian dengan diberi resep obat penguat janin dan vitamin serta wejangan-wejangan ilmiah. Salah satunya, perbanyak istirahat.
Dokter kandungan menyarankan saya untuk kembali sebulan lagi. Saya pun pulang. Lemas.
17 Oktober 2016
Harusnya tepat di hari ini saya kembali ke dokter kandungan. Tapi saya dan suami belum pegang uang. Kalaupun ada uang, itu untuk modal katering keesokan harinya. Kami saat itu memang baru merintis katering harian. Akhirnya, kami memutuskan untuk menunda sampai punya uang lebih untuk memeriksakan kandungan ke dokter.
Maafkan Ayah dan Ibu ya Nak, yang terkadang terlambat memeriksakan kondisimu ke dokter.
---------------------------------------------------------------
7 November 2016
Janin itu tengah sibuk di dalam rahim saya. Suara detak jantungnya memenuhi sudut ruang pemeriksaan sore itu. Dokter sibuk mengarahkan alat USG mengitari perut, suster sibuk mencatat perkembangan saya dan janin, saya pun sibuk senyum-senyum sendiri menatap layar yang tidak sampai 21 inch itu.
Kekhawatiran-kekhawatiran saya selama ini terjawab. Janin itu tumbuh dengan baik. Nak, terimakasih untuk tetap menemani Ibu. Saya kira tadinya saya mengalami kehamilan kosong, saya kira tadinya saya akan dikuret, saya kira tadinya anak ini sudah tidak bertahan lagi akibat flek selama lima hari berturut-turut itu.
Suamiku sayang, iya aku hamil. Allah ternyata masih mempercayakan aku untuk menjadi Ibu. Ini awal sekolah kita untuk menjadi orangtua terbaik. Jangan lelah untuk mengikuti kelas dan setiap ujiannya ya sayang.
Saya peluk suami saya erat sambil berkata sekali lagi, "Sayang, Aku Hamil!"

Komentar
Posting Komentar