Yang Bernama; Paser
Kampung halaman saya kesekian, yang bernama Paser
Rumah keluarga angkat
Ini tentang satu tahun yang sedang dijalani dan (lewat) lima bulan yang telah dilewati dengan penuh kebahagiaan.
Ternyata menuliskan hal-hal membahagiakan menjadi seorang penggerak pendidikan di desa ini (re: Rantau Panjang) tidak pernah akan cukup, karena mendengar anak-anak memanggilku `Ibu Anggi` dengan riang saja bisa sangat membahagiakan buatku. Terlebih Ibu angkatku yang selalu mengenalkanku sebagai `anak angkatku dari Jakarta` kepada orang-orang di desa.
Saya cukup akrab dengan kampung halaman, karena sedari kecil kerap saya dan keluarga mengunjungi kampung halaman orang tua saya, Magelang (Ibu) dan Sragen (Bapak). Bahkan, memutuskan kuliah dan tinggal nge-kos di Bogor, membuat saya merasa bahwa Bogor juga salah satu kampung halaman saya. Tinggal bertahun-tahun di rumah kecil bersama keluarga di Jakarta juga membuat saya menganggap Jakarta merupakan kampung halaman saya juga.
Kriteria kampung halaman untuk saya ternyata sederhana, dimana saya pernah tinggal cukup lama, dan ada keluarga, atau yang telah saya anggap atau menganggap saya sebagai keluarga sampai saat ini. Karena kehangatan keluarga memang selalu jadi alasan untuk pulang (bahkan disempat-sempatkan untuk pulang walau sibuk). Selain itu, mungkin makanan kesukaan yang hanya ada di kampung halaman, teman lama yang ingin ditemui, atau sederet alasan unik yang selalu dijadikan pemicu pulang ke kampung halaman.
Baru (lewat) lima bulan memang aku berada di Paser, tapi aku serasa ada di kampung halamanku sendiri, dan nantinya ini memang akan jadi kampung halamanku yang kesekian. Begitu banyak hal-hal membahagiakan disini, yang terpenting adalah begitu mudah mencari pelipur lara disini.
Ya, karena Paser membahagiakan untukku, dan inilah kampung halamanku kesekian, yang bernama Paser.

Komentar
Posting Komentar