Ketika Anak Dianggap Nakal

(Rantau Panjang, di bulan Juni 2015 yang ternyata masih sering turun hujan)

Pagi ini hujan turun dengan ramainya di desa kami dan saya berbasah-basahan naik motor menuju sekolah.


sekelompok siswa laki-laki

Ada yang berbeda memang kegiatan hari ini dengan hari biasanya, karena kami akan melaksanakan ujian kenaikan kelas (UKK) serentak mulai dari Kelas 1-5. Walau hujan dan langit sendu, saya melihat sepanjang jalan anak-anak menaiki sepeda dan berjalan dengan ritme lebih cepat dari biasanya sambil menutupi diri mereka seadanya, melawan hujan agar tak kebasahan.

Tak banyak tas dipunggung mereka. Mereka sekedar menjinjing papan scanner dan menyakukan alat tulis mereka, sebuah pulpen atau pensil. Setelannya udah siap ujian banget.

PKN merupakan pelajaran pertama yang diujikan. Benar dugaan saya, kelas tak penuh, banyak yang belum turun karena hujan lumayan lebat. Ruang guru juga demikian.

Saya lantas menuju ke tumpukan soal yang sudah dikirimkan oleh gugus sekolah. Hanya saya dan dua guru lainnya saat itu. Kami saling berbagi tugas, dan dapatlah saya memasuki dan mengawasi kelas 5. Langkah tegap maju jalan saya pun menuju ruang kelas 5.

Dari awal saya sudah menyampaikan di depan kelas bahwa kejujuran yang utama, karena kejujuran adalah bekal hidup yang dibawa hingga dewasa. Tak perlu gentar menghadapi rentetan soal UKK, karena itu yang akan menjadi sekelumit kisah yang akan mereka kenang hingga nanti. Karena bangsa yang besar ini butuh banyak orang jujur untuk mewujudkan segala janji kemerdekaannya. Kelas pun kami mulai dengan hening dan doa.

Adalah Misbahul. Atau akrab disapa Bahul. Siswa kelas 5 SD yang perawakannya lebih besar dari teman-teman sekelasnya tetapi sering (dan menurut guru-guru lain pun memang begitu) menampakkan gelagat kurang baik dalam kesehariannya. Terutama UKK ini, Bahul tak pernah nampak duduk tenang, celingak-celinguk, dan segudang tingkahnya yang (jujur) bikin saya geregetan.

Oke, saya pindahkan Bahul untuk mengerjakan sisa soal UKK miliknya di bangku guru. Awalnya menolak, tapi karena ketegasan saya, Bahul menurutinya. Tak juga jera duduk di bangku guru, Bahul mengulang-ulang kembali tingkahnya. Lama-kelamaan justru saya yang tertarik untuk terus mengamati tingkah lakunya.

Waktu mengerjakan soal pun berakhir.

Saya ajak Bahul bicara tentang apa yang telah dilakukannya. Saya ajak Bahul bercerita tentang dirinya sendiri, bahkan tentang apa yang dicita-citakannya. Bahul pun menjawab dengan semangat.

``Nahkoda Bu! Saya ingin jadi nahkoda kapal`` Serunya kepada saya.
``Nahkoda? Kenapa kamu ingin jadi nahkoda?`` Tanya saya balik.
``Saya mau ajak keluarga saya jalan-jalan keliling dunia lewat laut, kan laut luas Bu, nanti saya yang nyetir kapalnya`` Timpal Bahul semangat.
``Senangkah jalan-jalan dengan keluargamu Bahul?`` Saya semakin penasaran.
``Ya Bu, saya suka jalan-jalan dengan Bapak saya naik motor lihat Sungai Kandilo yang panjang dan luas`` Jawabnya.
``Apa yang kamu cita-citakan sangat baik, Ibu senang lihat anak yang sayang sama keluarganya, kalau begitu Bahul, orangtuamu juga pasti senang jika punya anak yang jujur`` Terang saya.
``Emm iya Bu`` Jawab Bahul seraya menundukkan kepala.
``Nah gitu dong`` Jawab saya ceria.
``Bu, Bu, nanti saya juga mau sekolah SMA di Jawa Bu, biar dekat dengan sepupu-sepupu saya`` Selorohnya.


Ada hal yang menarik ternyata dalam diri Bahul. Ternyata, Bahul punya cita-cita unik, berbeda dengan lainnya, dan mulia. Ternyata Bahul menunjukkan niat baiknya dengan (minimal) setelahnya Bahul membantu saya membereskan lembar jawaban milik teman-temannya ke dalam map coklat yang telah disediakan. Ternyata, Bahul tidak melulu seperti anggapan orang lain. Ternyata, Bahul anaknya penuh kasih sayang, baik dengan keluarga maupun teman-teman sekelasnya. Dan ternyata, samudera luas dalam diri Bahul perlu terus diselami.

Seketika itu, saya terkagum dengan semangat Bahul.

Bahul, siswa kesekian yang makin membuat saya yakin, bahwa setiap anak itu betul-betul unik. Mereka punya samudera luasnya sendiri yang diatasnya berlayar kehidupan nyata yang mereka jalani.
Bahul. Menginspirasi.

Komentar

  1. Ditunggu until cerita selanjutnya ka anggi. Ceritanya menginspirasi

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer