Republik Ini
Kami mantap memilihnya dengan cara kami masing-masing yang paling unik dan tak terbayangkan sebelumnya.
Kami terkumpul dari yang terserak di penjuru Republik ini.
Aku, terutama aku bukanlah orang-orang yang rasanya benar-benar mampu untuk menjalankan sebuah pengabdian nyata kepada negeri. Tapi aku yakin, Allah memilihku untuk memampukanku. Menghebatkanku. Menghebatkan kami semua yang ada disini. Mengajari kami caranya mencintai Republik ini dengan cara berbeda.
Aku selalu menatap lamat-lamat wajah ibu dan adik-adikku. Izin dari ibu untuk Indonesia Mengajar sudah kukantongi jauh-jauh hari bahkan saat aku berencana mendaftarkan diriku. Prosesnya kujalani setahap demi setahap. Sampailah pada pengumuman akhir yang membuatku resah setengah mati. Ibuku tinggal orang tua tunggal bagi kami. Semenjak kepergian Bapak di tahun 2009. Ibu rasanya berat memang aku meninggalkannya. Tapi justru beliau yang banyak menguatkanku. Baginya bangga jika aku dapat berkontribusi nyata untuk republik ini. Republik yang tanahnya kami jajak setiap hari, udaranya kami hirup setiap hari, airnya kami minum setiap hari, dan kami besar disini. Republik ini milik kami.
Memang aku telah menetapkan pilihan. Bagiku penting rasanya memilih ketimbang aku tidak bisa memutuskan apapun untuk masa depan siapa saja yang sebetulnya bisa aku perjuangkan. Aku ingat betul, aku pernah menemui seorang gadis kecil duduk di teras sebuah bank BUMN kenamaan tepat jam 10 malam dan ia hanya bilang `kak, sedekahnya kak`. Tak lama setelah kejadian itu, dan kami semakin akrab ternyata gadis kecil itu lancang berniat mencuri telpon genggamku. Aku marah rasanya. Bukan marah padanya, tapi marah pada situasi. `gilak, bisa-bisanya ya tuh anak berbuat begitu`. Lambat laun, aku yang menyesal pernah berpikir begitu.
Aku menemui beragam kejadian yang selalu membuatku ingin tergerak. Perihal meninggalkan zona nyaman, aku juga sulit mendefinisikan zona nyaman. Buatku, kumpul dengan keluarga, punya pekerjaan tetap, akses kemana saja mudah, mau apa saja ada itu juga semua pernah kualami walau dalam kondisi sederhana dan tak seperti kebanyakan orang. Republik ini mungkin nyaman bagi sebagian orang, tapi banyak yang menangis diatasnya. Buatku, izin dan ridho ibu yang mungkin juga sedang ketar-ketir akan ditinggal anak perempuannya adalah lebih dari apapun. Bu, doakan aku untuk berbuat sesuatu. Mudah-mudahan aku jadi kebanggaan ibu. Mudah-mudahan aku bisa walau aku takut. Aku cinta Republik ini, bu :)

Komentar
Posting Komentar