Kelas Inspirasi Bogor 2: Langkah Kecil untuk Indonesia Lebih Hebat

Mari kuceritakan betapa luar biasanya anak-anak bangsa Indonesia di sebuah sekolah dasar negeri bernama SDN Cemplang yang berlokasi di Bogor barat melalui gerakan kecil kami bernama Kelas Inspirasi Bogor 2, bertajuk `Membangun Mimpi Anak Indonesia`
Aku baru kali pertama ikut dalam kegiatan menginspirasi ini. Hasil iseng pencarian dan membaca berbagai artikel, aku pun memutuskan untuk benar-benar mendaftar sebagai pegiat dalam Kelas Inspirasi kali ini. Bogor, ya Bogor. Kota ini layaknya akan membawaku pada luapan nostalgia masa-masa kuliah dulu. Walau belum lama meninggalkan kota ini, tapi aku tak menolak untuk menengoknya kembali.

Pagi itu, kami para inspirator bergegas dan lantas bersiap-siap ambil bagian pada upacara penyambutan. Riuh rendah dan celoteh anak-anak jelas sekali mengiringi pembukaan acara kami. Perkenalan singkat antar inspirator yang sebelumnya justru diawali dari media sosial, benar-benar dimulai pagi itu (maklumlah, aku sendiri tidak mengikuti acara pembekalan yang diadakan beberapa hari sebelumnya). Mentari pagi menyambut kami dengan gagahnya. Sementara setelah Ibu kepala sekolah selesai menyampaikan sambutannya, anak-anak dengan gegap gempita mempersembahkan yel-yel untuk kami semua.

Fasilitator kami (Prada) memperkenalkan selarik lagu `open banana` sebagai penyemangat. Anak-anak senang sekali mengikutinya. Termasuk kami dan para guru. Tak lama berselang sebelum mentari semakin meninggi, anak-anak kembali dipersilahkan masuk ke kelas masing-masing untuk mengikuti rangkaian hari Inspirasi. Ya, hari Inspirasi benar-benar akan dimulai.
Kami menyiapkan media Inspirasi yang sudah kami bawa masing-masing. Sementara aku menyiapkan berbagai macam dokumen impor dan gambar-gambar mengenai prosedur impor, inspirator lainnya ada yang menyiapkan susu untuk nantinya diperkenalkan dan dibagikan kepada anak-anak, dokumentasi mengenai proses pendulangan migas, baju yang dikenakan ketika di lapangan, dan hal-hal seru lainnya. Pagi itu, aku betul-betul kagum melihat semangat inspirator lainnya.

Tibalah saatnya kami berpencar menuju ruang kelas jatahnya masing-masing, aku masih belum kebagian kelas pagi itu dan baru akan mengisi setelah jam pertama berakhir. Begitu bel dibunyikan, aku langsung bergegas menuju ruang kelas 5 SD. Kelas pertamaku hari itu. Aku disambut mereka dengan antusias. Aku memulai dengan salam internasional. Ya, ucapan selamat pagi dalam bahasa Inggris. Aku sengaja banyak memancing mereka dengan bahasa Inggris, karena pekerjaanku pun bergelut dengan bahasa Inggris yang kugunakan sehari-hari. Aku juga ingat betul salah satu anak laki-laki yang sedari awal bersemangat sekali. Amrus namanya. Amrus dan kawan-kawan menjawab dengan baik setiap pertanyaan dariku, mulai dari pengetahuan tentang Indonesia, truk dan kontainer, serta berebut ingin melihat contoh-contoh dokumen impor. Uniknya, di akhir kelas, Amrus sempat protes sambil berkata `kakak, aku mau maju juga ke depan`. Ya, Amrus ternyata ingin ambil bagian menginspirasi teman-temannya sendiri. Aku membawa mereka pada mini drama yang konsepnya dadakan karena aku melihat situasinya terlebih dahulu. Kuajak empat anak ke depan dan kusematkan peran masing-masing kepada mereka, yaitu; importir, eksportir, lembaga surveyor, dan bea cukai. Dialognya pun kusesuaikan dengan bahasa mereka. Menyederhanakan alur yang rumit sehingga layaknya proses jual beli yang biasa mereka lihat di kantin sekolah. Ya, perdagangan antar negara kuperkenalkan kepada mereka sebagai tambahan pengetahuan.

 Itu tadi baru sekedar keseruan di satu kelas. Selebihnya aku masih harus mengisi kelas 1, 6, dan yang terakhir adalah kelas 2 SD. Sewaktu memfasilitasi anak-anak kelas 1 SD untuk mengisi pohon cita-cita, aku harus dibantu dua orang wali kelas mereka (Ah, aku lupa nama ibu guru baik hati itu). Kami dengan sabar membantu anak-anak yang rata-rata masih terbata ketika harus menuliskan nama dan cita-citanya. Agak memakan waktu memang, tapi akhirnya semua bagian dari pohon cita-cita telah terisi 'guru, dokter, polisi, tentara, pemain sepak bola'. Luar biasa sekali mereka walau masih duduk di kelas 1 SD.

Pindah ke kelas 6 SD, lain lagi atmosfernya. Kalau kusapa 'good morning' jawabnya 'good morning teacher,  i am fine thank you, and you?'. Lho, jawabnya kok panjang dan jelas sekali. Anak-anak hebat. Melihat aku bawa banyak medali mereka minta kuis yang banyak agar bisa dapat medali. Padahal medali itu hanya sekedar kreasi sendiri menggunakan kerdus, kertas bekas, spidol, dan sedikit tali sebagai hiasan. Selesai materi, mini drama, ice breaking ala-ala kami. Aku pun mengadakan kuis dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Seru sekali. Anak-anak sampai banyak yang maju kedepan karena sangat ingin menjawab pertanyaan. Bahkan ketika medali ditanganku habis, mereka mengeluh kesal karena tak kebagian. 'Maafkan kakak ya dek, padahal semangat kalian tak ada habisnya'.

Terakhir, aku menuju ruang kelas 2 SD. Aku bingung awalnya karena sudah mulai siang dan matahari sudah meninggi. Kuajak saja mereka kedepan bernyanyi 'Aku Anak Indonesia'. Kebanyakan belum mengenal lagu ini. Kutuliskan liriknya di papan tulis besar-besar. Kemudian kuperagakan dan mengajak mereka bernyanyi bersama. 'Aku anak Indonesia, anak yang merdeka, satu nusaku, satu bangksaku, satu bahasaku, Indonesia, Indonesia, aku bangga menjadi anak Indonesia'.  Walau banyak yang ragu-ragu mengucapkannya, tapi mereka tak ragu bersuara lantang. Agak kacau sih, tapi tak apa, setidaknya aku memperkenalkan nasionalisme lewat lagu anak yang sudah mulai langka. 

Selesai sudah. Ah, waktu jahat rasanya. Singkat betul rasanya aku ada di tengah-tengah mereka. Lucunya, walau kami tamu sehari di sekolah itu, mereka sibuk berebut urutan dengan temannya demi mendapatkan tanda tangan kami. Kami sampai terkekeh melihat tingkah anak-anak. Ada yang disapa 'mas ganteng' dan 'teteh cantik', sampai-sampai nomor handphone pun diminta mereka. Ini yang masih selalu kami kenang jika kami saling sapa di media sosial.

Banyak kabar gembira pada kelas inspirasi perdana ini. Kabar gembira pertama, aku kembali berjumpa dengan Adi Mulia Pradana yang kala itu bertindak selaku fasilitator kami, mulai kegiatan persiapan hingga refleksi nanti. Aku mengenal Prada, sejak kami ada dalam kelompok yang sama sewaktu mengikuti seleksi lanjutan calon pengajar muda, Indonesia Mengajar. Prada benar-benar memfasilitasi kami mulai dari jadwal, koordinasi, hingga soal sarana dan prasarana. Hebatnya, semua tersusun rapi hingga hari Inspirasi selesai. Kabar gembira lainnya, saya bertemu inspirator dan para guru yang secara langsung menginspirasi saya juga. Betul rasanya kalau tagline yang disematkan 'satu hari cuti untuk mengajar, seumur hidup menginspirasi'. Terimakasih banyak atas pertemuan singkat, manis, dan mengesankan. Adi Mulia Pradana, Veronica Dewi, Aron Marpaung, Ayudha Nandi, Ambar Prakoso, Riza Kamal, Stephanus Eko, Resty Puji Octaviani, Girilantria. Kita semua luar biasa ;)

Komentar

Postingan Populer