Menikmati Pilihan
Bahasan kali ini sebetulnya bahasan receh. Tapi, biar nggak terlihat receh-receh amat, maka judulnya harus dibuat agak *ehem* berisi. Say, jujur-jujuran yuk, menikmati pilihan itu emang yang kayak gimana sih menurutmu? Yang -yaudalah yaa- karena emang nggak ada pilihan lain selain dinikmati, atau justru menimbulkan lebih banyak rasa syukur dan muncul potensi-potensi baru? Nggak ada yang saklek sih ya beb, semua tergantung keadaan. Tapi, izinkanlah saya cerita tipis-tipis.
Jogja
Saya mulai episodenya dari sini saja ya. Karena memang Jogja itu jadi pembuka episode baru bagi kehidupan saya juga; menikah. Kalau kemarin-kemarin paling mentok saya mikirin Ibu saya. Sekarang, saya dipikirin suami, dan saya mikirin balik suami. Waktu itu pilihannya adalah ikut suami ke Jogja, atau sementara nyari kerja dulu baru ikut suami ke Jogja.
Dasar pengantin baru, ya maunya ngintil kemana-mana. Walau saat itu, saya sudah tau konsekuensinya. Gaji suami saya ngikut UMR daerah, saya bakalan jobless dan gak tau mau ngapain, dan kita sementara tinggal dikosan dulu. Yak, selamaaaat! Rasanya gimana? Nikmatin aja shaaay, yang penting aku melu kowe. Hahaha. Enggaaaaak, enggak gitu juga pemirsah. Semuanya sudah kita pertimbangkan kok. Walaupun di awal terasa berat, tapi nyatanya yaa berjalan aja gitu.
Sempet stres nggak? Sempet buangetttt. Jauh dari orang tua, hamil, musti bertahan. Ya cirembay akutu beb. Rasanya ingin ku pulang, pulang, pulang dan pulang. Tapi lagi-lagi, emang disini malahan saya jadi belajar banyak tentang bonding antar suami dan istri yang begitu penting di awal pernikahan.
Tambahannya lagi, saya jadi mengenali potensi saya, yaitu MASAK. Jogja kan kulinerannya terkenal yhaa. Disana itu buanyaaaaak sekali tempat makan yang menginspirasi saya. Saya harus bisa masak ini dan itu. Beneran se-membara itu keingetannya sampai sekarang. Coba-coba buka katering harian buat para karyawan dan mahasiswa lumayan jadi kesibukan buat saya, walaupun sempat tersiksa karena di awal kehamilan. Nah, kehamilan rezeki juga bukan?
Kalau nginget-nginget sampai sekarang, rasanya saya kepingin mbalik lagi kalau punya modal yang cukup. Potensi usaha kuliner disana masih cukup besar dengan banyaknya dedek-dedek mahasiswa. Kadang juga masih suka nyeletuk sama suami ```''aku mau mbalik lagi ke Jogja```''. Terus diledekin, ''yakin???!''.
Kembali ke Jakarta
Nah, ini sebetulnya episode paling rrwwwgghhhh. Nggak tau kenapa saya paling ogah mengingatnya. Tapi sekarang saya ada disini. Bahkan, pada akhirnya, saya melahirkan dan membesarkan anak saya disini.
Yap! Meninggalkan Jogja itu jadi sebegitu beratnya waktu itu. Mungkin, karena saya mulai nyaman dan banyak hal baru. Tapi satu hal yang saya sadari penuh. Kesempatan saya untuk berkembang bisa jadi adalah pulang ke Jakarta. Karena pada waktu itu, saya juga sempat diajak merintis bisnis yang sudah mulai running bersama teman-teman. Ya, walaupun pada akhirnya bubar jalan juga sih.
Awalnya memang disuruh pulang sama mertua, kemudian tinggal sama mertua. Suami sempat belum mendapat pekerjaan, tapi kita pantang menyerah. Kita ikutan jualan sayuran siap saji waktu itu. *eh, tiba-tiba aku keingetan untuk bikin tulisan soal bisnis sama teman? Yay or Nay?* *maapin intermezzo*. Sayapun juga nyambi nulis artikel sampai sekitar 40 judul saat itu, hasilnya lumayan sekali. Dan itulah yang kemudian kita jadikan bekal untuk menjelang kelahiran buah hati. Sedihnya, saya sempat menyaksikan sendiri suami berjuang jadi ojek online demi keluarga. Sedih, tapi tetap tidak boleh menyerah.
Satu minggu sebelum melahirkan, suami saya akhirnya diterima bekerja di sebuah distributor snack anak-anak hingga sekarang. Disitu pula ia banyak belajar seluk beluk jadi pedagang kecil, besar, grosiran, hingga juragan. Disitu pula ia punya cukup keberanian buka toko online di beberapa marketplace untuk menjajakan produk snack anak-anak. Progresnya kini? Masih terus kita usahakan untuk semakin banyak omsetnya dan berkah. Perjalanannya pernah saya tuliskan disini.
Saya sendiri sekarang ngapain? Alhamdulillah, masih bisa menyibukkan diri berbagi resep masakan dengan para pemirsa di Instagram dan Cookpad, bakulan produk edukasi anak-anak juga, ngajar TPA, dan alhamdulillah ada yang mau les privat sama saya. Siapa yang kuasa menggerakkan semua itu pada akhirnya? Ya hanya Gusti Allah yang kuasa.
--
Pada akhirnya pasti buanyaaaak perjalanan orang lain yang mungkin lebih dilematis daripada kami. Yang bukan lagi merupakan pilihan, tapi lebih kepada yaaa mau tidak mau harus milih. Tapi sekali lagi, menjadi orang dewasa memang serumit itu. Ibarat kata, orang yang milih tidak bekerja pun, tidak akan pernah lepas beban dalam hidupnya. Toh, besok dia pasti akan bertanya kan, saya makan apa?. Nah, percayalah ada banyak kesempatan bertumbuh dalam setiap pilihan rasional kita. Buat saya, setiap pilihan hidup yang melibatkan Allah didalamnya, bisa jadi jalan yang mungkin sepi puja-puji dan penuh caci-maki, tapi bukankah Allah ridho?
Lagipula, masalah itu adalah pertanda bahwa kita masih hidup. Jangankan hidup, pilihan mau mati dengan cara apa itu pun akan menentukan bagaimana kita meraih surgaNya. Nggak apa-apa juga kalau kita butuh bantuan saran dari orang lain, tapi pastikan tempat curhatmu adalah yang amanah dan tepat. Toh, kita juga cuma manusia kan.
Yang terpenting gaess, jangan kita jadi salah-salahkan takdir Tuhan. Menurut kita bisa jadi skenarioNya tidak berjalan mulus, tapi tenang saja, anak panahmu hanya sedang dinaik-turunkan dan dibelokkan, kalau kita selalu berusaha untuk jadi yang terbaik, maka anak panah itu pasti akan menancap mantap pada sasarannya. Jadi, sudahkah kau nikmati pilihan hidupmu?
pilih mana? (Sumber gambar: google.com)
Jogja
Saya mulai episodenya dari sini saja ya. Karena memang Jogja itu jadi pembuka episode baru bagi kehidupan saya juga; menikah. Kalau kemarin-kemarin paling mentok saya mikirin Ibu saya. Sekarang, saya dipikirin suami, dan saya mikirin balik suami. Waktu itu pilihannya adalah ikut suami ke Jogja, atau sementara nyari kerja dulu baru ikut suami ke Jogja.
Dasar pengantin baru, ya maunya ngintil kemana-mana. Walau saat itu, saya sudah tau konsekuensinya. Gaji suami saya ngikut UMR daerah, saya bakalan jobless dan gak tau mau ngapain, dan kita sementara tinggal dikosan dulu. Yak, selamaaaat! Rasanya gimana? Nikmatin aja shaaay, yang penting aku melu kowe. Hahaha. Enggaaaaak, enggak gitu juga pemirsah. Semuanya sudah kita pertimbangkan kok. Walaupun di awal terasa berat, tapi nyatanya yaa berjalan aja gitu.
Sempet stres nggak? Sempet buangetttt. Jauh dari orang tua, hamil, musti bertahan. Ya cirembay akutu beb. Rasanya ingin ku pulang, pulang, pulang dan pulang. Tapi lagi-lagi, emang disini malahan saya jadi belajar banyak tentang bonding antar suami dan istri yang begitu penting di awal pernikahan.
Tambahannya lagi, saya jadi mengenali potensi saya, yaitu MASAK. Jogja kan kulinerannya terkenal yhaa. Disana itu buanyaaaaak sekali tempat makan yang menginspirasi saya. Saya harus bisa masak ini dan itu. Beneran se-membara itu keingetannya sampai sekarang. Coba-coba buka katering harian buat para karyawan dan mahasiswa lumayan jadi kesibukan buat saya, walaupun sempat tersiksa karena di awal kehamilan. Nah, kehamilan rezeki juga bukan?
Kalau nginget-nginget sampai sekarang, rasanya saya kepingin mbalik lagi kalau punya modal yang cukup. Potensi usaha kuliner disana masih cukup besar dengan banyaknya dedek-dedek mahasiswa. Kadang juga masih suka nyeletuk sama suami ```''aku mau mbalik lagi ke Jogja```''. Terus diledekin, ''yakin???!''.
Kembali ke Jakarta
Nah, ini sebetulnya episode paling rrwwwgghhhh. Nggak tau kenapa saya paling ogah mengingatnya. Tapi sekarang saya ada disini. Bahkan, pada akhirnya, saya melahirkan dan membesarkan anak saya disini.
Yap! Meninggalkan Jogja itu jadi sebegitu beratnya waktu itu. Mungkin, karena saya mulai nyaman dan banyak hal baru. Tapi satu hal yang saya sadari penuh. Kesempatan saya untuk berkembang bisa jadi adalah pulang ke Jakarta. Karena pada waktu itu, saya juga sempat diajak merintis bisnis yang sudah mulai running bersama teman-teman. Ya, walaupun pada akhirnya bubar jalan juga sih.
Awalnya memang disuruh pulang sama mertua, kemudian tinggal sama mertua. Suami sempat belum mendapat pekerjaan, tapi kita pantang menyerah. Kita ikutan jualan sayuran siap saji waktu itu. *eh, tiba-tiba aku keingetan untuk bikin tulisan soal bisnis sama teman? Yay or Nay?* *maapin intermezzo*. Sayapun juga nyambi nulis artikel sampai sekitar 40 judul saat itu, hasilnya lumayan sekali. Dan itulah yang kemudian kita jadikan bekal untuk menjelang kelahiran buah hati. Sedihnya, saya sempat menyaksikan sendiri suami berjuang jadi ojek online demi keluarga. Sedih, tapi tetap tidak boleh menyerah.
Satu minggu sebelum melahirkan, suami saya akhirnya diterima bekerja di sebuah distributor snack anak-anak hingga sekarang. Disitu pula ia banyak belajar seluk beluk jadi pedagang kecil, besar, grosiran, hingga juragan. Disitu pula ia punya cukup keberanian buka toko online di beberapa marketplace untuk menjajakan produk snack anak-anak. Progresnya kini? Masih terus kita usahakan untuk semakin banyak omsetnya dan berkah. Perjalanannya pernah saya tuliskan disini.
Saya sendiri sekarang ngapain? Alhamdulillah, masih bisa menyibukkan diri berbagi resep masakan dengan para pemirsa di Instagram dan Cookpad, bakulan produk edukasi anak-anak juga, ngajar TPA, dan alhamdulillah ada yang mau les privat sama saya. Siapa yang kuasa menggerakkan semua itu pada akhirnya? Ya hanya Gusti Allah yang kuasa.
--
Pada akhirnya pasti buanyaaaak perjalanan orang lain yang mungkin lebih dilematis daripada kami. Yang bukan lagi merupakan pilihan, tapi lebih kepada yaaa mau tidak mau harus milih. Tapi sekali lagi, menjadi orang dewasa memang serumit itu. Ibarat kata, orang yang milih tidak bekerja pun, tidak akan pernah lepas beban dalam hidupnya. Toh, besok dia pasti akan bertanya kan, saya makan apa?. Nah, percayalah ada banyak kesempatan bertumbuh dalam setiap pilihan rasional kita. Buat saya, setiap pilihan hidup yang melibatkan Allah didalamnya, bisa jadi jalan yang mungkin sepi puja-puji dan penuh caci-maki, tapi bukankah Allah ridho?
Lagipula, masalah itu adalah pertanda bahwa kita masih hidup. Jangankan hidup, pilihan mau mati dengan cara apa itu pun akan menentukan bagaimana kita meraih surgaNya. Nggak apa-apa juga kalau kita butuh bantuan saran dari orang lain, tapi pastikan tempat curhatmu adalah yang amanah dan tepat. Toh, kita juga cuma manusia kan.
Yang terpenting gaess, jangan kita jadi salah-salahkan takdir Tuhan. Menurut kita bisa jadi skenarioNya tidak berjalan mulus, tapi tenang saja, anak panahmu hanya sedang dinaik-turunkan dan dibelokkan, kalau kita selalu berusaha untuk jadi yang terbaik, maka anak panah itu pasti akan menancap mantap pada sasarannya. Jadi, sudahkah kau nikmati pilihan hidupmu?


Angggii.. Semangaat teruusss yaaaaa..
BalasHapusSuka ceritanya..
Terimakasih sudah membaca Ajri :)
BalasHapus