Merawat Cinta Sampai Ke Surga resume Kulwap Jannah Family 12 Agustus 2017

Oleh
Ikhsanun Kamil Pratama
&
Foezi Citra Cuaca Elmart

Pernikahan harmonis bukanlah pernikahan
yang tiada konflik sama sekali. Pernikahan harmonis adalah pernikahan yang memiliki konflik, namun
suami dan istri mampu me-manage perbedaan yang ada sekaligus mampu menyalakan api asmara di antara mereka.

Setelah kami riset sebagai Marriage Trainer dan Family Therapist selama kurang lebih 5 tahun,  kami banyak mengambil saripati dari pernikahan sekitar yang kami temui, dan kami melihat
bahwa dalam 5 tahun pertama pernikahan hampir bisa dipastikan semua pernikahan mengalami 5
fase, yaitu (1) Euforia, (2) Pain, (3) Struggle, (4) Survive, (5) Bless.

Kelima fase ini bukan berarti pada tahun pertama mengalami fase satu, tahun kedua fase dua, tahun ketiga fase tiga, bukan itu. Masing-masing fase dijalani secara berbeda oleh masing-masing pasangan. Ada yang jalani fase 1 hanya 6 bulan, ada yang 1 tahun, dan sebagainya.

Ada juga yang “stuck” di satu fase, tidak berpindah ke fase selanjutnya meski waktu berjalan.  Ini pun ada. Bahkan ada yang memilih menyerah tak lagi mau menjalani fase tersebut, alias berpisah.

Berikut 5 fase penting yang perlu dilewati untuk menguatkan fondasi pernikahan, yaitu

1. Fase Euforia
bahwa ini adalah fase kebahagiaan menjadi raja/ratu serta kebahagiaan ketika merayakan cinta masih membara sedemikian luar biasa. Ini adalah fase yang dialami banyak orang ketika baru saja menikah, ketika kekurangan pasangan mungkin belum tersingkap banyak, atau belum ke tahap “mengganggu”.

2. Fase Pain
Ini adalah fase ketika setelah berbulan-bulan hidup bersamanya, dirasakan mulai ada sikap atau perilaku pasangan yang mengusik. Ketika ekspektasi kita terhadap pasangan
justru menipu diri kita, ternyata pasangan tidak “seperti yang dibayangkan”. Ditambah, emosi negatif yang tersimpan pada diri kita pada masa lalu pun turut menyumbang “luka” pada fase ini. Pada fase ini masalah yang terkesan kecil dan sepele pun bisa jadi membesar. Pada beberapa pasutri, ada yang
memilih untuk menyerah pada fase ini. Namun, cukup banyak juga yang menyikapi fase ini dengan baik dan berlanjut ke fase selanjutnya, yaitu

3. Fase Struggle.
Ini adalah fase ketika kita sudah menyadari dan menerima kekurangan pasangan, dan kita memilih untuk memperjuangkan dan mempertahankan pernikahan kita. Fase ini
adalah fase yang menguras paling banyak energi. Fase ini suami dan istri berjuang untuk mempertahankannya, di versinya masing-masing. Suami berjuang demi keluarganya versi dirinya, istri merasa
berjuang versi dirinya. Belum ada komunikasi yang terjalin baik di sini, apakah proses perjuangan yang dilakukan sudah sejalan dengan yang dilakukan pasangan. Sehingga, tantangan pada fase ini
adalah begitu banyak suami dan istri yang merasa berjuang sendirian. Hal ini terus dilakukan sampai
suatu masa ketika suami/istri energinya habis dan masuk ke fase selanjutnya

4. Fase Survive.
Di sini, api asmara yang dulu membesar sekarang sudah hilang. Fase ini adalah
fase ketika orang-orang merasa “sudah tidak butuh cinta”. Yang penting, bertahan demi anak saja, cukup. Yang penting, bertahan sekadar penuhi kewajiban. Tidak perlu “neko-neko”. Menikah menjadi  sekadar menggugurkan kewajiban. Dan di sini, banyak pasutri yang tanpa sadar memilih pilihan ini, bahkan dijalani sampai 15, 20, atau 30 tahun pernikahan ke depannya, meskipun sesungguhnya hati  kecil merasakan kerinduan untuk kembali bermesraan bersama kekasih halalnya. Di satu sisi, ada
pasutri yang mampu melewati fase ini dengan baik, akhirnya mencapai fase selanjutnya, yaitu

5. Fase Blessing.
Pada fase ini, baik suami maupun istri sudah mampu menerima bahwa pernikahan tak hanya perkara yang bahagia, ada juga dukanya. Bahwa pernikahan bagaikan sekeping
koin bersisi dua, ada lapang ada sempit, ada suka ada duka, ada bertengkar ada rukunnya, ada tangis ada tawa, ada sedih ada senyum, ada kesalahan ada pula memaafkan, ada prestasi ada pula puji.

Bagi suami istri yang berada pada fase ini, seluruh episode kehidupan dijadikan sebuah rasa syukur kepada Allah, pahit manisnya hidup, naik turunnya hidup, semua dijadikannya BERKAH. Bahwa yang
terpenting bukan pahit manisnya, yang paling penting adalah BERKAH. Bahwa yang terpenting bukan kondisi di atas atau di bawah, yang paling penting adalah BERKAH. Beruntungnya suami istri yang bisa
berada di posisi ini, semua episode hidup menjadi sarana untuk semakin dekat dengan ridha-Nya. Mereka membawa satu tekad: untuk *merawat cinta sampai ke surga*.

Sudah sampai manakah fase pernikahan Anda? Adakah kesulitan yang sedang dirasakan dalam melewati setiap fase ini? 😊

Komentar

Postingan Populer