Bapak Samsul

Terkait tulisan René pada harian Kompas, 20 Agustus 2016, berjudul ‘How Power Approach Can Make You Powerless’, saya hendak berbagi tentang beliau yang tengah dipercaya memegang kekuasaan.

Beliau merupakan bapak angkat saya sendiri. Sewaktu menjadi Pengajar Muda dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar di tahun 2015, saya jadi punya keluarga, dan tentunya orang tua angkat. Beliau tinggal di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, persisnya di sebuah desa kecil bernama Desa Rantau Panjang.

Nama beliau adalah Samsul, orang-orang akrab menyapanya dengan Om Samsul, sementara  istri dan semua anak-anaknya hangat memanggilnya ‘Bapak’. Bapak didaulat oleh tetangga-tetangganya untuk menjadi Ketua Rukun Tetangga (RT) 7, kawasan permukiman transmigran Desa Rantau Panjang di awal 2015. Kuasa atas wilayah tersebut diperolehnya secara aklamasi, setelah tidak ada lagi bakal calon ketua RT yang mau mengajukan diri.

Bapak memang hanya mengetuai sekitar 20 KK, yang hampir semuanya adalah petani, dengan istri biasanya seorang ibu rumah tangga atau membuka warung kecil-kecilan di depan rumah mereka. Kawasan permukiman transmigran tersebut tidaklah ramai penduduk. Belum lagi keluarga yang
sewaktu-waktu bisa pindah ke Pulau Jawa atau daerah lainnya karena alasan mata pencaharian.


Menjadi ketua RT di permukiman yang sepi penduduk, justru inilah yang dimanfaatkan dengan baik oleh Bapak, dibantu Ibu (istrinya), untuk mewujudkan RT 7 menjadi RT yang nyaman dengan orang-orangnya yang berhati baik. Bulan pertama Bapak menjabat, Bapak mengumpulkan semua kepala keluarga untuk bermusyawarah soal program-program RT yang hendak dijalankan tiap minggunya, bulannya, atau bahkan tahunnya.

Bulan berikutnya, inisiatif ‘Buku Curhatan Warga’ pun  datang dari Ibu untuk melengkapi agar warga leluasa menuliskan saran, kritik, usulan, atau apapun, baik untuk Ketua RT beserta keluarganya, maupun warga lain dan lingkungannya. Musyawarah tersebut akhirnya jadi tonggak bermulanya ‘Rapat Bulanan’ warga RT 7 di tiap awal bulan.


Bapak dan Ibu juga menginisiasi kerja bakti seminggu sekali di tiap Jumat pagi. Cita-cita mereka  sederhana. Tempat tinggal mereka dekat sekali dengan sumber kebakaran hutan dan lahan yang kerap menimpa Borneo setiap tahunnya. Pemahaman inilah yang tak lelah ditularkan ke tiap warganya, agar minimal rajin merapikan semak belukar di sekitar rumahnya. Tujuannya, kalau-kalau api datang, tak cepat merambat ke rumah mereka. Walau kadang ada saja yang membolos, Bapak dan Ibu punya cara unik menegur mereka yang kerap tak kelihatan batang hidungnya dalam setiap kegiatan RT, yaitu; dipanggil kerumah, diajak makan bersama, kemudian dinasihati layaknya keluarga sendiri.


Bapak juga mewakafkan lahan miliknya untuk  dijadikan lapangan voli RT 7. Lahan tersebut tadinya tumbuh rumput liar di atasnya. Berkat niat baik ketua RT dan warga, lahan tersebut akhirnya dibuka, dijadikan arena perlombaan untuk tujuh belasan, yang kemudian setelah selesai tujuh belasan, dijadikan arena sparing voli antar warga di hampir setiap sore menjelang. Tujuh belasan tahun 2015 itu merupakan tujuh belasan pertama yang sukses mengundang orang-orang bahkan hingga di seberang desa berpartisipasi dalam rangkaian acaranya, mulai dari syukuran hingga nonton bareng sebagai penutupannya.


Bapak dan Ibu juga sangat membantu warga dalam urusan pembaruan dan perapihan administrasi kependudukan. Bapak dan Ibu ikhlas membantu mengongkosi warganya semampu mereka, bahkan hingga ke Pulau Jawa demi perapihan administrasi (Kebanyakan transmigran pindah serta-merta mengikuti sanak saudara tanpa membawa kelengkapan administrasi). Administrasi kependudukan sangatlah penting sifatnya, Ibu kadang kala bingung jika warganya tidak terdaftar dalam daftar penerima bantuan sosial hanya karena belum mengurus KK atau KTP setempat. Misal, bantuan beras miskin, yang akhirnya diakali oleh Ibu untuk diambil satu kilogram tiap karungnya untuk warga yang layak mendapatkan bantuan namun belum terdaftar, tentunya dengan kesepakatan warga dahulu sebelumnya. Melihat kejadian ini, tidak pernah lelah Ibu mengingatkan warganya yang belum tertib administrasi.


Masih banyak contoh positif lainnya selama Bapak berkuasa selaku ketua RT. Ibu juga memanfaatkan momentum ini dengan baik, menyalurkan ide sebanyak mungkin, mendampingi Bapak selama mungkin, dan menjadi tauladan bagaimana seharusnya Ibu RT berlaku adil di lingkungannya,
minimal dengan ibu-ibu lainnya.


Bapak mungkin bisa saja lelah tatkala harus mengurus kebunnya yang luas dan tanamannya yang beragam, mulai pagi hingga petang menjelang. Tapi toh, Bapak tetap menyisihkan waktu, tenaga, dan materinya untuk warga, walau terkadang harus mengitari kampung yang minim penerangan di malam hari dengan motor bututnya. Ibu mungkin bisa saja lelah, setelah seharian mengurus anaknya yang masih kecil, mengajari anak-anak mengaji, mengisi kebutuhan warungnya dan melayani pembeli, serta melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga yang menumpuk. Tapi toh, Ibu tetap setia membuatkan kudapan dan kopi secara cuma-cuma agar warga betah berlama-lama bertandang di rumahnya. Kata Ibu, “Kalau ada makanan, warga hatinya senang, kalau warga hatinya sudah senang, gampang diajak ngobrolnya”.


Bapak; saya bahagia dapat mengamati kepemimpinan beliau dari dekat dan belajar banyak hal darinya.



Komentar

Postingan Populer