Karena Rezekimu Bisa Jadi Datang dari Orang yang Tak Pernah Kau Sangka Sebelumnya
Allah telah menetapkan rezeki kita, bukan pada jumlahnya, tetapi pada syaratnya
Ini kisah saya dengan ibu seorang penjual pempek di kantin salah satu sudut kampus. Sebut saja namanya Ibu Baik, karena jujur saya lupa namanya. Hanya ingat wajahnya.
Pempek jualannya saya akui bukan pempek yang rasanya juara, tapi harganya lumayan murah untuk kantong seorang mahasiswa (dulunya) pecinta pempek seperti saya. Makanya, saya sering bertandang ke warung Ibu Baik untuk menuntaskan rindunya lidah pada pempek.
(sudut kantin IPB, google.com)
Terik matahari siang itu membuat langkah saya terhenti ingin menikmati segelas es jus dan rasa-rasanya kalau ditambah pempek sebagai kudapan, bisa sedikit mengurangi rasa kecewa saya yang baru saja ditolak lamaran kerjanya oleh salah satu unit bisnis di kampus karena saya tidak mumpuni dalam hal mengendarai kendaraan bermotor.
Hari-hari saya kala itu memang banyak saya habiskan dengan riwayat hidup dan salinan ijazah yang saya bawa kemana-mana. Maklum, saat itu saya merupakan lulusan baru yang lagi diospek di dunia para pencari kerja. Saya sudah tak lagi menyewa sebuah kamar kos, pikir saya, sangat sayang menghabiskan uang untuk menyewa kamar kos. Toh saya hanya bolak-balik Jakarta-Bogor untuk menyelesaikan administrasi kelulusan dan (sedang semangat-semangatnya) mencari informasi lowongan pekerjaan di pusat karir untuk alumni kampus yang hitungannya hanya dua hingga tiga kali dalam seminggu.
Saya lumayan sering mampir di kantin sudut kampus ini. Selain tempatnya yang asyik, makanannya beragam, dan rasanya lumayan. Kalau jam makan siang datang, kantin ini penuh oleh mahasiswa. Tetapi suasananya berbeda hari itu.
Kantin sudut kampus siang itu lumayan sepi. Hanya beberapa orang yang tengah asyik menikmati makan siangnya disana. Mungkin karena saya datang agak telat, jam 1 siang, jadi orang-orang sudah berlalu daritadi. Pengantaran pesanan pun jadi terasa lebih cepat karena tidak ada antrian. Sambil menyodorkan sepiring pempek lenjer, akhirnya terjadilah percakapan saya dengan Ibu Baik yang kurang lebih seperti ini;
''Darimana Dek? Kok sendirian?", Tanyanya (Ibu Baik ini rupanya tahu betul kebiasaan saya makan disana beramai-ramai dengan kawan-kawan lainnya).
"Ini Bu, tadi mengurus surat keterangan lulus di rektorat", Jawab saya sambil mengaduk kuah pempek dan sambal hijau.
"Jadi, sudah lulus sekarang? Alhamdulillah kalau begitu", Sambutnya (senyumnya ikut tersungging dan dengan sigap Ibu Baik mengambil posisi duduk dihadapan saya).
"Iya, Alhamdulillah Bu, sesuai target 4 tahun, makanya ini sedang mengurus yang perlu diurus dan juga mendaftar wisuda", Jawab saya sembari tersenyum menatap Ibu Baik yang kini menemani saya makan pempek.
"Pasti orangtua senang ya, ngomong-ngomong sudah dapat kerja dimana?", Tanyanya (Duh, Ibu Baik ini belum tahu kalau saya baru saja patah hati)
"(Tiba-tiba kuah pempek terasa lebih pedas dari sebelumnya) Belum Bu, baru ngelamar-ngelamar aja", Cengar-cengir getir membalas pertanyaan Ibu Baik.
"Tempat kakak saya bekerja sedang butuh orang karena ada proyek baru, Duh, pokoknya kerjaannya tentang impor gitu lah, mau nggak coba ngelamar disana? Sebentar ya, saya tuliskan alamat email kakak saya dan nomor handphonenya", Tawarnya (dan juga tanpa ba-bi-bu cekatan Ibu Baik menuliskan alamat email dan nomor ponsel di secarik kertas).
"Emm" (saya cuma bisa bengong memandangi Ibu Baik).
Singkat cerita, sore itu saya pulang dengan bermodalkan nama sebuah perusahaan (yang menurut informasi Ibu Baik sedang membutuhkan karyawan), alamat email, dan nomor ponsel yang bisa dihubungi. Ibu Baik memang menyarankan saya untuk lebih dulu melihat profil perusahaannya, baru setelah itu memutuskan akan melamar disana atau tidak.
10 September 2012 jadi hari pertama saya bekerja disana. SGS-GIS untuk verifikasi hasil inspeksi barang-barang impor sebelum diberangkatkan ke Indonesia. Kantornya memang bukan kantor besar. Tapi cukup hangat dengan suasana kekeluargaan yang kental. Jarak kantor dari rumah juga tidak terlalu jauh. Sistem shift yang dikenakan lumayan fleksibel. Saya pun sempat belajar banyak mengenai prosedur impor di Indonesia, terutama untuk barang-barang produk pertanian.
Jejak pertama karir saya ini, justru saya dapatkan melalui seorang Ibu Baik yang tidak setiap hari juga saya sambangi dagangannya. Mungkin banyak pelanggan Ibu Baik lainnya berupa manusia-manusia semacam saya yang juga sedang sibuk mencari kerja pasca kehidupan kampus. Tapi rezeki memang tidak akan pernah tertukar. Rezeki saya datang dari orang yang tidak pernah saya sangka sebelumnya. Allah Maha Romantis.
(Saya terakhir kali mengunjungi warung Ibu Baik sekitar tahun 2014, semoga Ibu Baik selalu mendapatkan kemudahan dari Allah di setiap urusannya, Aamiin)


Komentar
Posting Komentar