Bapak, Ibu, dan Integritas

14 September 2015

Amanat upacara pagi itu membuat pikiran saya melambung jauh ke rumah. Apalagi kalau bukan tentang Bapak, Ibu, dan tambahannya soal integritas yang berhasil saya korek-korek dari kotak pandora di ingatan saya.
((Catatan penting : pembina upacara pagi itu adalah karib saya sendiri, sesama rekan pengajar muda)).


(Ibu saya)


Kurang lebih amanatnya seperti ini; integritas itu sesederhana seorang ayah yang tak pernah jemu mendirikan sholat di sepertiga malam, kemudian menjerang air sambil menunggu waktu subuh tiba, tanpa kenal lelah membuatkan teh manis dan kopi untuk anak-anak dan dirinya, serta setia mengajak turut serta anak laki-lakinya sholat subuh berjamaah di masjid dekat rumah. Itulah integritas. Menjadi tauladan tanpa pernah kenal lelah dan mengerjakan sambil menikmati prosesnya dengan hati dan pikiran.

Saya pun kemudian teringat sosok Bapak saya. Bapak, seingat saya adalah sosok Bapak yang selalu menawarkan diri kepada tetangga, saudara, dan teman beliau jika ada yang perlu diantar dan ditunggui berobat. Dengan keahlian menyetirnya, mobil siapapun siap dikemudikannya ke apotik, klinik, rumah sakit, atau bahkan pengobatan alternatif. Kami, anak-anaknya selalu diajaknya ikut serta. Pasien patah tulang atau bahkan stroke ringan yang bikin kami ketakutan sendiri pun tak membuat beliau gentar mengajak kami. Iming-iming es krim atau semangkuk bakso berhasil bikin kami takluk, dengan satu alasan besar, beliau menjadi contoh nyata bagi kami, bahwa siapapun dia orangnya yang tengah dalam kondisi kesusahan akibat penyakitnya, jika kita belum sanggup membantu secara materi, maka jadilah bagian  dari penawar rasa sakitnya dengan cara sederhana; menemani dan menghiburnya. 

Itu Bapak, lain lagi dengan Ibu.

Saya dulu tidak pernah paham, kenapa Ibu kerap kali mengundang beberapa ibu-ibu kerumah dan belajar membaca al-quran bersama-sama. Baru aku tahu belakangan bahwa ibu-ibu tersebut hingga usianya yang sudah ibu-ibu belum lancar mengaji. Ibulah, yang berangkat dari kesadarannya, mengajari mereka semua, tanpa lelah, tanpa pamrih. Padahal selepas maghrib, sering kali kami mengerjakan tugas dan PR dari sekolah, tapi Ibu tetap bisa membagi waktunya dengan baik, untuk kami dan juga untuk orang lain. Satu alasan besar dibalik semua yang dilakukan kurang lebih sama dengan Bapak, menjadi tauladan bagi anak-anaknya. Sigap dengan lingkungan sekitar dan bergerak segera, dengan kemampuan yang kita miliki.

Iya, Bapak dan Ibu yang tak banyak menjelaskan hal-hal rumit. Bahkan mereka juga tak banyak tahu arti Integritas secara bahasa. Tapi yang pasti aku yakin, tak mungkin mereka memimpikan layangan terbang tinggi kalau mereka tak mempersiapkan segala peralatan dengan baik, menerbangkannya dengan sepenuh hati, menggenggam benangnya dengan erat, dan mencari tempat yang anginnya berhembus. 

Iya, mereka, yang seingat aku tak pernah lelah atau bahkan mengeluh melakukan hal-hal sederhana tersebut.

Tapi saya justru baru mengingatnya belakangan ini. Dasar anak.



Komentar

Postingan Populer