Balada Motor Dinas
((Mengelola ekspektasi menjadi salah satu prinsip dasar bertahan dan menjalani tugas sebaik-baiknya di daerah penempatan))
Motor dinas.
Akses penempatan yang (mulai tahun ini) sudah ada jalan aspal sedikit demi sedikit menuju ibukota kabupaten, akhirnya bisa ditempuh dengan waktu lebih singkat ketimbang waktu PM (pengajar muda) sebelum aku bertugas disini. Lebih mudah juga bagi aku untuk (turut serta) mengerjakan (kejar tayang) program kabupaten, mengingat persis empat purnama lagi kami pulang ke orang tua kami masing-masing (tsah). Tadinya aku kira, motor dinas ini (James namanya) juga akan jauh lebih awet karena jalanan sudah (jauh lebih) bersahabat. Walaupun kenyataan kalau wetonnya datang, motor dinas kami jauh lebih ngeselin daripada ngeliat ABG ngambek sama pacarnya. Okeh, kelola ekspektasi.
Sejarah singkatnya adalah, sejak awal penempatan ada saja yang berhasil bikin aku ketawa sendiri kalo liat penampakan motor ini. Dulu waktu awal-awal bahkan motor ini enggak bisa mati. Berulang kali kunci kontak diputer juga gak bisa mati. Mirip pemain debus yang bahkan badannya diiris-iris pakek parang juga masih idup. Bahkan saking keselnya, pernah aku meninggalkan motor ini dalam keadaan hidup-hidup di pinggir jalan. Jadi tontonan orang? Iyalah. Hahahha. (Maaf ya James, aku udah terlanjur kesel sama kamu, tapi begitu kamu mati dengan sendirinya, aku maafkan kok).
Bolak-balik ke bengkel demi perawatan prima motor ini sudah aku (dan PM lainnya) lakukan sebagai bentuk ikhtiar agar seenggaknya James nurut sampai akhir penempatan. Punya bengkel langganan? Iyalah. Bengkel yang (dimana-mana) selalu heran liat motor keluaran India dan berplat B. Bilang mas-mas bengkel sih `dalemnya beda, suku cadangnya gak ada dimana-mana, kalo ada yang rusak harus dikarbit`.
``Yah mas, aku kudu apa atuh? Dikasihnya begini, yaudah jalanin aja`` Jawabku yang memang sudah menerima kondisi James apa adanya.
Itu persoalan enggak bisa mati. Ada lagi persoalan kalau James sedang galak-galaknya mirip cewek PMS. Motor tersebut akan ngegas sejadi-jadinya. Mak, membahayakan lah pokoknya. Hingga sering kami mencabut businya agar reda emosinya.
Yang paling nge-hits mah ini lah. Yang akhir-akhir ini baru saja terjadi. James gak bisa hidup dengan lancar. Doi mirip remaja belajar sholat subuh, susah bener dibanguninnya kalo pagi-pagi. Setengah jam sendiri nyalain motor, ujungnya tetep pakek motor punya ibu (ibu angkat di penempatan).
Ya, motor dinas dengan segala baladanya. Tapi yang paling aku syukuri dari semua kejadian dan pengujian tingkat kesabaran oleh motor merah ini adalah motor ini jadi energi positif tersendiri layaknya magnet yang bisa menarik semua orang yang punya niatan baik menolongku untuk datang, setidaknya ngutak-ngatik busi, dll (aku masih kurang paham terhadap segala onderdil motor).
Jumlah mereka yang datang membantu tak pernah sedikit. Bayangkan saja, kalau James di raja mogok ini sudah mulai batuk-batuk, seisi rumah langsung berhamburan ke halaman. Mulai Bapak, ibu, adik-adik, bahkan kai (kakek).
Itu dirumah. Kalau di sekolah, anak murid semua rebutan berusaha menyalakan motor. Belum lagi guru-guru. Belum lagi kalau kebetulan ada orang tua murid yang sedang lewat atau menjemput anak mereka. Belum lagi kalau ada warga sekitar. Belum lagi (terus lupa saking banyaknya).
Ah ya, orang-orang yang tengah main voli dengan ramainya bisa berhenti Untuk sekedar mencarikan obeng dan melihat-lihat ada masalah apa kiranya di motor ini.
Itu di sekolah. Kalau di jalan atau di suatu tempat, bahkan pernah seisi warung nasi goreng berusaha membantuku menyalakan motor.
Haha. James oh James. Terimakasih ya James, karena telah menjadi bukti dari kebaikan dan ketulusan orang-orang di Paser ini. Bertahanlah, demi kami-kami ini. Sebentar lagi James, sebentar lagi paripurna :)

Komentar
Posting Komentar