Belajar apa kita hari ini? :)
Paser; Buen Kesong (Paser; Berhati Baik). Kami mengenal kalimat ini sejak pengumuman penempatan di akhir minggu ketiga camp Indonesia Mengajar. Sejak saat itu tak sabar rasanya menantikan hari dimana akan benar-benar menjejak bumi Paser.
Sejak 21 Desember 2014, sudah lewat tiga minggu aku ada disini. Paser dan lebih tepatnya Rantau Panjang. Aku membuktikan bahwa setiap sudut Paser memang berhati baik.
Aku belajar hal-hal kecil setiap hari yang (menurut perhitunganku) punya dampak besar kedepannya. Termasuk kemarin lusa ketika ibu angkatku, Ibu Jannah, menginisiasi kegiatan menjenguk orang sakit sebagai pengganti kegiatan mengaji Al-Quran.
Unik. Ibu dengan segudang kesibukannya (mengurus rumah, warung, suami, dan anak-anaknya) masih sangat menyempatkan waktu memikirkan anak-anak disekitarnya untuk belajar ilmu agama.
Ceritanya seperti berikut; Mbah Misiyem, salah satu warga Desa Rantau Panjang mengidap kembali penyakitnya yang kemarin sempat sembuh. Mbah hanya bisa terbaring lemah di kasur. Beruntungnya, Mbah tinggal bersama anak dan cucunya yang setia mengurus Mbah sehari-harinya.
Mbah memang tidak tinggal berdekatan dengan Ibu, tetapi sesama transmigran dan Ibu sudah mengenal Mbah sejak lama, mendengar kabar ini pun, Ibu bergegas meniatkan ingin menjenguk Mbah.
Cucu Mbah adalah murid mengaji Ibu tiap sore. Ibu juga rajin menanyakan kabar Mbah sebelumnya. Nampaknya Ibu sangat merasakan apa yang dirasakan Mbah dan keluarga yang merawatnya.
``Ayok anak-anak,besok kita jenguk Mbahnya Kiki,tapi sebelum itu,kita iuran satu orang dua ribu, untuk beli bunga dan juga buah`` Ibu mengumumkan didepan murid-muridnya. Sontak tanpa pikir panjang anak-anak mengeluarkan lembaran-lembaran lusuh dari kantong mereka masing-masing. Ibu mengumumkan ini sehari sebelum kami menjenguk Mbah.
Esoknya, sembari Ibu berbelanja kebutuhan warung ke pasar, Ibu mampir membeli seikat bunga plastik dan parsel buah yang cantik.
Sorenya, anak-anak sudah berkumpul semua dengan seragam TPA baru berwarna biru langit. Mereka semua tampak gagah dan anggun. Bergantian memindahkan sepeda dan sepeda motor (disini hampir semua anak bisa mengendarai motor) agar bisa langsung digunakan menuju rumah Mbah.
Mbah terlihat kepayahan, bahkan berbicara hanya sepotong-sepotong saja. Ibu memimpin lantunan Al-Fatihah, memenuhi langit-langit rumah Mbah. Seketika aku merinding, anak-anak begitu semangat membacakan doa dan berebut ingin salim dengan Mbah. Anak-anak ini begitu tulus.
Selesai kami menjenguk, Ibu mengumpulkan anak-anak di teras rumah pintar. Pertanyaan pertama ibu adalah ``Belajar apa kita hari ini anak-anak? Coba tunjuk tangan``. Jawaban anak-anak beragam dan begitu polosnya. Aku pun menjawab dalam hati ``Aku juga belajar banyak hari ini bu``

Komentar
Posting Komentar