Camp Pelatihan Intensif Calon Pengajar Muda Indonesia Mengajar Angkatan IX

27 Oktober 2014. Senin itu, 52 orang yang sebelumnya telah menjatuhkan pilihan besar dalam hidupnya, bertemu dalam sebuah latar rumah sederhana bercat putih yang difungsikan sebagai kantor. Alamatnya unik, mudah sekali diingat oleh kami, jalan Galuh dua nomor empat.
Sebelumnya, aku bahkan sudah sejak pagi-pagi sekali bersiap dari rumah membawa tas-tas besar berisi baju dan perlengkapan lainnya dengan niatan kesemuanya akan kubawa hingga penempatan nanti. Ibu dan adik-adikku mengantarkanku, mengantar pada pilihan yang sudah aku tetapkan kurang lebih dua bulan lalu.
Riuh sekali pagi itu, semua sibuk dengan barang bawaannya yang besar dan tidak sedikit. Ada lebih dari 52 tas besar milikku dan peserta lain. Tas-tas kami dinamai, dan setelah terkumpul, semuanya diangkut ke atas mobil box.
Pak Anies Baswedan menyapa kami siang itu. Senang sekali dapat bertemu seorang menteri seperti beliau. Sambutannya menyejukkan dan menambah semangat kami semua. Tambahannya, banyak juga tim yang bergabung dalam Indonesia Mengajar bahkan sejak berdirinya gerakan ini yang menyapa kami dengan hangat siang itu, salah satunya direktur eksekutif, Bapak Hikmat Hardono.
`Hidup itu sejatinya adalah garis yang menghubungkan antara niat baik dan cita-cita, tentunya yang namanya garis bentuknya tak harus lurus, bisa saja  berkelok`. Aku masih ingat betul kalimat ini dengan jelas. Mengajak aku, dan tentunya kami semua, meluruskan niat untuk sebuah perjalanan yang tentu tidak mudah mulai sejak kami akan berangkat pelatihan intensif.
Purwakarta menyapa kami dalam sejuknya malam. Inilah tempat kami belajar dua bulan mendatang. Inilah tempat kami menguatkan apa yang dulu pernah kami tulis sebagai visi dan misi kami.
Aku menulis ini memang setelah selesai  pelatihan intensif, dan ini ringkasannya; kami calon pengajar muda yang tak hanya melulu belajar soal pedagogis dan manajemen berbasis sekolah, kami disini diasah untuk meningkatkan kompetensi kepemimpinan kami, mengatasi rasa takut sendiri, dan bahkan membuktikan bahwa sesuatu yang awalnya tidak mungkin menjadi mungkin.
Kami menyapa sigapnya alam lewat pelatihan fisik bersama Wanadri, kami menyelami diri sendiri lewat pembelajaran karakter, kami mengkreasikan segala yang kami punya lewat metode kreatif dan konstruktif, kami memetik banyak pelajaran lewat praktek pengalaman mengajar, dan kami mengulik sisi lain dari hidup kami lewat bertahan dalam survival.
Dua bulan itu singkat. Dua bulan bisa jadi berat, tapi kenyataannya dua bulan menyisipkan hal-hal berarti dalam hidup kami.
Kami berjabat, berpeluk erat, dan menangisi secara bahagia setiap pencapaian dalam dua bulan tersebut. Bandara Soekarno-Hatta jadi sebuah rekam jejak awal kami di daerah penempatan masing-masing. Rasanya campur aduk. Rasa-rasanya khawatir. Rasa-rasanya sulit. Tapi, rasa-rasanya senang juga ketika akan menjejakkan kaki di belahan khatulistiwa lainnya. Rasa-rasa itu berpadu sampai aku sulit menceritakannya.

Ini nyatanya daerah penempatan. Ini nyatanya segala ilmu diaplikasikan. Ini nyatanya segala daya diupayakan, dan ini nyatanya bahwa ranah pribadi akan banyak dikonversi demi kepentingan keberhasilan gerakan.

Banyak doa dan semangat yang mengiringi kami pagi itu. Ini pasti yang akan membuat langkah kami semakin mantap. Dan aku pasti merindukannya.

Komentar

Postingan Populer