Surat untuk Ibu
Dear Ibu tersayang,
Aku merenungi malam-malamku akhir ini. Aku merenungi apa yang sudah dan belum bisa kuperbuat sebagai anak agar aku menjadi manusia berguna seperti yang Ibu inginkan.
Waktu itu ibu minta direkam, dibuatkan rekaman yang isinya kesan dan pesan agar katanya aku selalu ingat pesan ibu dimanapun aku berada. Tenang bu, inshaAllah aku selalu mengingatnya dimanapun, sampai kapanpun.
Waktu itu ibu minta direkam, dibuatkan rekaman yang isinya kesan dan pesan agar katanya aku selalu ingat pesan ibu dimanapun aku berada. Tenang bu, inshaAllah aku selalu mengingatnya dimanapun, sampai kapanpun.
Terimakasih ibu atas segalanya yang sulit aku uraikan satu persatu. Aku bukannya tak ingin dekat ibu, tapi ketika aku diamanahkan atas sesuatu, aku hanya berusaha menyelesaikannya. Memang aku belum memulai, tapi nyatanya ibu selalu mendukung aku dari awal. Aku tak bisa membayangkan kalau-kalau ternyata ibu adalah orang pertama yang menentangku, pastinya aku tak akan sampai hampir garda dan medan perjuanganku dalam pengabdian pendidikan ini.
Sungguh restumu luar biasa. Aku memang sangat gundah, sampai detik ini. Tapi nyatanya, ibu bahkan membantuku dengan sabar untuk berkemas menyiapkan bekal selama setahun, yang kemudian sedikit demi sedikit mengikis ketidaksiapan ku.
Ibu, aku minta maaf juga kalau-kalau sebagai anak aku belum bisa banyak membantu ibu, kebanyakan merepotkan. Kebanyakan masih sering mengeluh. Kebanyakan, dan ah, aku rasa-rasanya masih jauh dari yang ibu harapkan. Bahkan yang terakhir, mudah-mudahan ibu tidak kecewa ketika aku memutuskan untuk berhenti bekerja dan memilih jalan ini. Kita memang sempat terpisah bertahun lamanya, tapi perlahan, aku bisa menerima bahwa itu mungkin memang sudah digariskan menjadi warna dalam hidup kita. Tak apa, aku sudah lega menerimanya. Lebih baik aku bersungguh-sungguh dalam setiap amanah dan pekerjaanku, ketimbang aku bersungut-sungut menyesali apa yang pernah menimpaku waktu lalu.
Mungkin cara perjuanganku lain, mungkin cara perjuanganku tak lazim, atau mungkin cara perjuanganku setengah gila. Tapi ibu mengerti sekali bahwa setiap anak punya masanya, setiap anak punya karyanya walau kita ada dalam kondisi yang bisa disebut serba kekurangan.
Ibu selalu bilang, jadi manusia harus selalu memberikan yang terbaik. Mudah-mudahan pengajar muda benar-benar mengajariku bagaimana menjadi lebih baik, dan bagaimana memberi yang terbaik. Aku sudah punya tekad, aku tidak boleh surut, aku tidak boleh gentar.
Baktiku tak akan pernah usai pada ibu, pada ibu pertiwi pun. InshaAllah akan kutunaikan semuanya perlahan. Mudah-mudahan ini tidak mengurangi rasa kebanggaan ibu terhadap aku, mudah-mudahan ini tidak mengurangi rasa sayang ibu padaku walau kita harus berjauhan, walau nantinya aku akan jarang ngobrol dengan ibu, walau nantinya aku tidak bisa sesering dulu membantu kesulitan ibu secara langsung untuk tempo kurang lebih 14 bulan. Aku minta maaf bu, aku minta maaf. Doa ibu pasti mengiringi setiap langkahku. Semoga aku selalu bisa menjadi yang ibu harapkan, ibu nantikan, dan ibu banggakan.
Aamiin allahumma aamiin
Dari Anakmu yang banyak merepotkanmu,
Anggi Presti Adina

Komentar
Posting Komentar