Berbagi : Energi!

Emmm..saya harus menulisnya kembali setelah sebelumnya pada tanggal 25 Juni lalu hasil tulisan saya yang hampir rampung tidak sukses disimpan dan dipublikasikan. Yasudah, tidak apa. Ini memberikan saya pengalaman lagi, bahwasanya, kita harus pandai menyimpan sesuatu. Tak bisa mengharapkan kecanggihan teknologi, karena ternyata saya mendapati tulisan saya nge-hang. miris.
Well, saya mengamati sekitar, judul ini persis dengan apa yang saya tuliskan beberapa hari yang lalu. Buat saya sulit untuk menguak apa yang pernah saya tuangkan beberapa hari yang lalu. Tapi tak apa.

Apa yang kau rasakan pertama kali setelah kau berbagi? Kalau hal ini ditanyakan pada saya, saya akan menjawabnya, tentu seperti di-charge jutaan energi positif. Rasanya memang awalnya kita terlalu banyak mikir, "ah, nanti kalau kurang bagaimana', `saya tidak sempat`, `saya mikirin kebutuhan saya dulu`, dan seterusnya, tapi firasat ini justru berbanding terbalik dengan yang akan kita rasakan nantinya. Rasanya berjuta keindahan merebak di sukma. Melihat kebahagiaan orang lain merupakan energi tersendiri untuk kita. 

Inilah yang saya rasakan setiap kali saya mengisi kelas Matematika untuk SMP secara cuma-cuma di suatu yayasan nirlaba untuk kemajuan pendidikan. Adik muridku jumlahnya tak banyak. Mereka semua berasal dari keluarga menengah ke bawah dan tinggal di kawasan pinggiran Jakarta Timur. Menghadapi anak-anak yang beranjak remaja susah-susah gampang. Lelah terkadang, bahkan harus merelakan beberapa acara demi mereka. Tapi semua ku abaikan.

Yayasan Sahabat Anak mengenalkan aku pada banyak hal. Termasuk pada kisah Fatimah, murid paling rajin dan pintar di kelompokku. Fatimah anaknya cantik, baik, dan aktif. Tapi sore itu aku melihat suatu hal yang berbeda darinya. Percakapan kami yang tidak sengaja membuat aku jadi tahu bahwa Fatimah punya masa lalu yang kelam. Keterusterangannya padaku sore itu membuat aku miris. Orang tua memang segalanya untuk anaknya. Tapi bagaimana jika anak tidak menemukan sosok tersebut pada ayah maupun ibunya. Begitupun Fatimah yang harus menjalani hari-harinya hanya bersama ibunya yang terpaksa menjadi pengupas bawang di pasar karena ayahnya tidak lagi bertanggung jawab menafkahi keluarga mereka semenjak Fatimah duduk di bangku kelas 4 SD. Yang saat itu Fatimah lihat hanyalah ayah yang sering memukul ibunya, mengambil uang hasil kerja ibunya di pasar, pergi meninggalkan rumah, tak pernah menampakkan dirinya lagi, bahkan terdengar kabar sudah menikahi perempuan lain dan memiliki anak. Aku tahu persis rasa sakit hatinya Fatimah. Tetapi Fatimah menanggapinya santai. `Dulu dia bapak saya kak, tapi sekarang dia bukan bapak saya lagi, tapi bapaknya orang lain, buat apa saya punya bapak, tapi gak bertanggung jawab, mendingan gak punya bapak sekalian`. Ya, anak 13 tahun bisa mengucapkan kata-kata tersebut dengan fasih. Aku lemas mendengarnya. Aku takut kebenciannya mengakar hingga ia dewasa dan mengenal dunia. Aku berusaha keras menanggapi ucapan Fatimah dengan kalimat positif, tapi yaaaaa namanya anak-anak, benar,  mungkin memang aku tidak mengerti seutuhnya tentang perasaan Fatimah karena aku tak pernah mengalaminya.

Aku berdoa dalam hati, semoga kelak Fatimah tidak lagi merasakan kebencian seperti ini, ia pasti bisa merasakan kedamaian kala suatu hari nanti ayahnya dengan baik-baik kembali pada keluarganya. 

Sore itu, sungguh aku merasa masih jauh dari kata sempurna sebagai seorang pengajar, tapi aku berjanji, aku akan terus memberikan yang terbaik untuk orang-orang membutuhkan yang ada di sekitarku :)

Komentar

Postingan Populer