Bapak : rindu tak berbatas

Sosoknya mulai menua dengan rambut yang kian banyak memutih.
Pembawaannya tenang, walau aku tau banyak yang dipikirkannya. Anak-anaknya makin beranjak dewasa dan punya cita-cita untuk mengenyam pendidikan tinggi. Bapak banyak diam saat itu. Aku tau bapak pasti merisaukan soal biaya dan kelanjutannya nanti. Aku hanya sebentar sekali merasakan tumbuh dewasa bersama bapak. Masih minim pengetahuanku soal keuangan keluarga saat itu. Aku lebih banyak berambisi untuk melanjutkan kuliahku. Isi pikiranku hanyalah aku harus kuliah sama seperti teman-temanku yang lain, dan akhirnya bapak pun merelakan aku kuliah di luar kota. Keputusanku bulat. Keputusanku mantap.

Pertengahan tahun pertama aku mendapatkan kabar yang aku pikir hanya kabar biasa. Bapak sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Seingatku, bahkan ketika aku kecil, bapak tidak pernah sakit sampai mengharuskannya dirawat di rumah sakit. Memangnya bapak sakit apa? Aku terus memikirkannya sejak ibu mengabariku. Persis sebulan bapak diharuskan menginap bahkan dipakaikan alat-alat yang mengerikan, hingga Allah memanggilnya lebih dulu. Tangisku pecah sejadi-jadinya. Aku urung makan, bahkan enggan tersenyum. Banyak yang menyalamiku, tapi bahkan aku tak pernah ingat mereka siapa.


Yang menjadi sumber kekuatanku saat itu justru ibu dan ketiga adik-adikku. Bapak. Ya, bapak telah tiada. Sosok humoris itu telah tiada.

Tumpuan kami sudah sirna. Aku tak pernah lupa rasa rinduku untuknya. Menumpuk. Menggunung. Tak berbatas. Tak Berbalas. Tapi aku tetap teguh disini, meneruskan perjuangannya, meneruskan cita-citanya, dan berusaha keras mewujudkannya. Bapak yang mengajarkan aku untuk tak banyak ambil pusing menghadapi segala kerumitan yang datang, kuncinya adalah hadapilah. Bapak yang mengajarkan aku untuk terus berbuat dan berprasangka baik kepada siapapun, walau tak semua orang bisa bersikap sama kepada kita. Bapak yang mengajarkan aku pentingnya keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat. Bapak yang banyak mencontohkan makna berbakti terhadap orang tua. Bapak yang mengajarkan aku untuk turut merasakan kebahagiaan atas kesuksesan orang lain, dan ah, terlalu banyak yang bisa aku dapat darinya.

Beliau memang bukan siapa-siapa, tapi tanpa beliau, aku bukan apa-apa. Biarlah rindu ini berwujud doa. Aku rindu padamu, pak :)

Komentar

Postingan Populer