Anda pernah kecewa kan pastinya??

Saya pernah mengalami kekecewaan terbesar dalam hidup ini. Kelihatannya sederhana. Hanya sekedar orang tua saya tidak ada yang menghadiri upacara wisuda sarjana saya yang waktu itu diselenggarakan tanggal 19 Desember 2012. Sedih sekali rasanya ketika mereka tidak ada bersama saya merayakan kesuksesan hasil belajar saya selama menempuh program sarjana. Saya berusaha mengerti, sekuat apapun saya mempersembahkan gelar ini untuk mereka, tetapi ketika Tuhan menetapkan saya harus menghadapinya sendirian, maka saya harus menghadapinya sendirian. Semuanya terasa kurang lengkap. Bapak yang ketika itu sudah dipanggil lebih dahulu menghadap Yang Maha Kuasa dan Ibu yang kala itu masih menjadi buruh migran di Saudi Arabia pasti juga mengharapkan bisa melihat anaknya resmi menjadi seorang sarjana. Kalau dibilang kecewa dan iri, itu pasti, dan saat itu saya terus bertanya-tanya kenapa kondisi orang tua dan keluarga saya tidak selengkap seperti apa yang dimiliki teman-teman saya lainnya. Tapi saya terus berpikir positif. Semua yang digariskanNya pasti ada hikmahnya. Saya mencoba menyembuhkan rasa kecewa dan sedih yang ada. Teman-teman tentunya juga banyak yang menyemangati, tapi tak sedikit juga yang terus menanyakan. Saya hanya bisa menimpali mereka dengan senyuman dan melontarkan kata-kata penyemangat untuk diri sendiri. Ya, saya berusaha sekuat mungkin menutupi kesedihan saya. Beruntung nenek dan adik-adik saya bersedia menjadi pendamping wisuda saya saat itu. Justru inilah yang memicu tekad saya bahwa suatu hari nanti saya harus sekolah pascasarjana, supaya orang tua saya bisa menghadiri wisuda pascasarjana saya suatu hari nanti. Saya juga berpesan pada adik saya yang sekarang sedang menempuh pendidikan sarjana hukum, bahwa kita harus menamatkan dengan baik apa yang telah orang tua kita perjuangkan hingga susah payah untuk kita semua. Berikan selalu yang terbaik untuk orang tua kita apapun bentuknya sebaik yang bisa kita lakukan. Jika orang tua senang hatinya, maka jalan hidup kita kedepan pun akan semakin mudah. Upacara wisuda sarjana tersebut saya anggap hanya sekedar perayaan semata. Tetapi orang tua saya butuh makna yang lebih dalam dari itu. Saya berusaha membuktikannya semampu saya. Bekerja di sebuah perusahaan surveyor internasional dengan tetap memberikan pengajaran pada adik-adik kurang beruntung di Yayasan Sahabat Anak, inilah yang saat ini bisa saya persembahkan untuk mereka. Kekecewaan itulah yang justru mendorong saya untuk terus bermimpi mewujudkan kebanggaan-kebanggaan mereka dalam bentuk yang lain. Bermimpi hingga semua terasa batasnya hanyalah langit biru yang membentang luas. Hingga sekarang, tak segan saya berbagi seluruh impian saya kepada orang tua dan orang-orang terdekat saya. Meminta doa restu dan dukungan mereka semua agar saya diberi kemudahan untuk dapat mewujudkannya.

Komentar

Postingan Populer