Ibu
Pagi ini kami berdiskusi ringan soal kehidupan. Kehidupan, nasib, dan arah keluarga kami di masa mendatang. Guratan tua di wajah ibu begitu terlihat. Aku lupa persisnya berapa usia ibu. Sekitar 46 tahun. Tapi beban pikiran di usia nya membuat Ibu terlihat lebih tua dari yang seharusnya.
Kekhawatiran akan masa depan anak-anaknya ditambah statusnya sebagai orang tua tunggal membuat raganya lebih lelah dari biasanya. Aku sebagai anak tertua di keluarga ini turut membantu berbagi beban keluarga bersama sekuat yang aku mampu. Sejauh yang aku bisa. Impian yang aku punya harus berpotongan dengan impian ibuku tentang keluarga ini. Ibu bersikeras ingin kerja `bantu-bantu` di rumah kawannya. Tapi ah, rasanya aku sudah tak tega membiarkan ibu keluar rumah bekerja keras demi anak-anaknya.
Ibu ku memang bukan siapa-siapa. Ibu cuma wanita dari desa yang minim pengalaman dan pendidikan. Dinikahi bapak 26 tahun yang lalu, yang ibuku tahu hanyalah, pekerjaan rumah tangga, membuatkan minuman hangat sebagai pelepas rasa lelah bapak yang baru pulang kerja, dan pengajian setiap malam jumat. Bahkan, sewaktu aku memutuskan ingin melanjutkan kuliah, aku lebih banyak berdiskusi dengan guru, teman, dan Bapak. Aku dulu beranggapan, sulit berdiskusi soal hal-hal baru dengan ibu. Ibu tidak tahu internet, tidak tahu musik dan mode pakaian terbaru, tidak tahu caranya menyelesaikan PR anak SMU.
Dan kini aku mau tidak mau harus mendiskusikan segalanya dengan ibu. Aku tahu, sampai kapan pun aku tidak bisa membalas semua kebaikan ibu. Ibu rela tidak ikut kala aku dan adikku pergi ke tempat hiburan dan mencicipi makanan yang menggoda lidah. Ibu rela pakai pakaianku yang sudah tak kusuka ketika aku memutuskan untuk membeli pakaian baru. Ibu rela makan nasi semalam ketika aku ribut nasi semalem sudah tidak enak. Rasanya tak habis kalau kuuraikan semua disini. Soal materi, kami memang seadanya. Ibu juga tak terlalu pandai untuk berdagang, sekedarnya saja. Tapi aku tenang kalau ibu ada di rumah. Walau tak ada masakan enak di rumah. Kalau aku ingin orangtuaku sesempurna layaknya orang tua lain, tapi kalau kembali berkaca, memang aku sudah jadi anak yang seperti apa? sudah berasa jadi anak yang paling membanggakan buat orang tua? Terlalu sombong rasanya.
Bu, terimakasih atas segalanya, segalanya yang tak terucap dan tak ternilai. Doa, keringat, air mata, dan dukunganmu yang pernah ada. Aku selalu butuh ibu. Ibu nyawa hidup untukku. Ibu. Sederhana. Tak terhingga maknanya.

Komentar
Posting Komentar